Showing posts with label My Experience. Show all posts
Showing posts with label My Experience. Show all posts

Monday, October 28, 2013

Panas

Pagi yang selalu terburu-buru. Setelah dua tahun berlalu saya menemukan bahwa saya bukanlah manusia pagi lagi. 

Tidak sempat mencari nikmatnya udara pagi yang selalu diidamkan ketika saya belum kembali ke sini. Jangankan bersemangat, ingin saja tidak, untuk bangun dan bekerja. Karena pada dasarnya saya suka sekali suasana pagi. Tapi tidak dengan suasana biasa. Dingin dan sambil lalu.

Saya benci rutinitas. Oh, bukan rutinitasnya. 

Mereka dan apa-apa yang membuatnya rutin. 

Ini buruk sekali untuk proses pembelajaran. Masa anak muda mau dibentuk dengan monoton. Seperti ceret yang cuma dipakai merebus air. 

Awet. Tapi hanya begitu saja. Dipanaskan untuk ditunggu dingin kembali. Dicuci. Diisi air mentah. Lalu dipanaskan lagi. 

Uh. 

Saya menolak hidup demikian. 

Saya emoh dipanaskan saja. Saya ingin membara. 

Thursday, August 02, 2012

Jakarta and Holiday : Wrong Pair of Shoes?


It's a huge village of total intergalactic boredom. Also a home to parade of moaning drifters and homeless dudes. Flashy city malls, jammed intersections, sewage dirt on the street, shabby passers-by, midnight parking-lot-criminals, limitless queue lines. All you'd ever seen of a never-changing city, is just a piece of land you don't wish to live in. At least from the sight of a middle-class lady student over here.


It's been almost two years that I continue to pursue a postgraduate degree in political science in Jakarta. I met new people, new experiences, and brand new stuns and awe. As a postgrad student, I only have to attend for about 10 hours of a week in maximum. But that doesn't always mean that I've got a lot of spare time to rest my butt out.

I'd been in classroom bench too long, so that I decided to make some arrangements to enjoy life. I went to the nearby cities, I traveled the city roads and gutters, watching mentally half-paralyzed drivers while rushed along with my steps. I lived in bad tastes since I don't always know how to make fun of the situation.

When it comes to holiday season, it's an escape route for almost anyone, except the god damned-money-robber traffic police officers, to hang around the city. However, there aren't too much options. Jakarta, after all, is home to shopping squares. From Tanah Abang and Asemka Groceries to the amusing malls around Sudirman Business District or Senayan; we will certainly have the picture of  the biggest capital circulation in the country.

In short, getting through the holiday in Jakarta would mean shopping, if not just culinary adventure. Here we have The Jakarta fair (sort of huge festival bazaar), Jakarta Great Sale, or live music on the street and sometimes on Seven Eleven shops. Well at least on family getaway, you will at most would drive to north Jakarta's Ancol and Dufan, or end up in Ragunan zoo.

Personally, I am not a frequent money spender, while basically I don't feel like relieved in the midst of the crowd. Shopping is not my thingy. My fatigue suddenly taking me over if I look around shopping squares too much. I simply could not stand the noise. Live music, yes, but not of them who performed on the  pavement of convenient stores. In the midyear and school holidays like those days passed, it's getting boring. Especially when you don't have any friends to roam around, any sweet smelling cafes in Kemang will turn out very lonesome.

But sometimes things can be different if you are enlightened by some creativeness, nice mates to substitute the boredom. Jakarta can be fun, but at least for me, I definitely won't waste my holiday here. An adequately sane people would do the same too, if chances are on side. The point is, that the city is at its length, no matter what creativity involves in it, it's not original, immature and fake. There is nothing natural here, everything is artificial as an imagined metropolis. Another point is that reality can't take the expectation of wonder skyscrapers anymore. The environment sucks, the once-great-river Ciliwung is on its edge; then the town parks are almost no shelter of cool air anymore. The city is the most polluted capital in Southeast Asia, what is worse than that? Too much load and contradiction of landscapes that I cannot love, it even breaks my heart that needy folks on the kampongs and under-nourished guys recite their own entertainment of playing ukulele and monkey circus under flyovers and city bridges (that was my view when I took the Bajaj ride).

Great for doing business, but not for leisure. We should all admit that this is  a town of no joy, don't even push yourselves to enjoy. My advise is don't come near there when you have holiday, with all respects, I hope all parents take their children outta the city for awhile, just to experience nature. For youngsters and socialites as well, feel the showers of glamorous disco lamps as you like. But don't forget to balance this to meet the fantasy of clear blue skies, or just to strolling around the tea plantation before you go further climbing a mountain.

Jakarta is not for a perfect holiday. They are not a pair of shoes. When you try to walk on them, you'll likely feel uncomfortable in no time.

Tuesday, October 11, 2011

Maju Terus Pantang Mundur

Dengan mudahnya saya melakukan hal-hal bodoh semingguan ini. mungkin kepala saya sudah overloaded. Memang sebaiknya istirahat dulu, mumpung kuliah cuma dua kali saja minggu ini. tapi beruntungnya, teman-teman lama mengajak saya bercengkrama. Kantor kami, beruntungnya, hanya terpisah satu hingga dua blok saja. Namun kadang saya menikmati keletihan dan benar-benar ingin menghayatinya. Tapi sebaiknya hal-hal bodoh yang saya lakukan segera diperbaiki, meskipun tidak akan ada orang yang benar-benar sempurna. Pilihan yang baik adalah dengan terus maju, seberapa pun jauhnya, seberapapun banyaknya duri ranjau yang tertanam di jalan.




Friday, July 22, 2011

Jum'at Bukan Hari Pustaka

Tengok kanan kiri, pengunjung perpustakaan terlihat agak sepi. Ya iyalah, rata-rata orang lebih suka melepas penat menjelang Jum'at malam dengan keluar mengayun kaki ke pusat perbelanjaan, taman, ataupun sekedar mencoba menu baru di kafe pojok kota. Beberapa dari kami warga kota teladan dan kutu buku masih mampu membolak balik halaman buku di perpustakaan kota, sambil pula berselancar di komputer dengan akses internet gratis.

Saya beberapa kali terakhir ini berkunjung kembali ke Perpustakaan Kota untuk mencari bacaan asyik. Walau bukan kota pendidikan besar seperti di Jogja, perpus di sini jaaauuuuhhh lebih lengkap dan cozy daripada punyanya orang Jogja. Cuma saya ke sana tidak pas hari Jum'at. Ya memang karena lebih enak jika akhir pekan diramaikan dengan kegaduhan dan bukan baca-baca. Hmm ini menurut kebanyakan orang ya. Saya juga bukan geek, bukan cewek anti-sosial. Tapi memang tersangkut di perpustakaan kala Jum'at sore terdengar seperti kesepian.

Kalau sekarang saya di Jakarta, mungkin sudah ada jadwal bercengkrama dengan keponakan saya yang baru berulang tahun ke 2, atau menerobos jalan bersama teman-teman sambil mengomentari kemacetan. Mungkin pula merencanakan bermain paintball dengan teman kuliah yang juga sedang suntuk, dan bertanya-tanya kapan rencana itu di-jadi-kan.

Dan ceritanya adalah, saya di sini mencari pelengkap untuk master piece saya yang saya selalu angankan akan selesai Mei tahun depan. Ingin sekali melakukan penelitian lapangan, namun nampaknya hal tersebut kurang relevan dengan target saya untuk sekedar menjaga agar kewarasan tetap di kepala. Namun saya juga berusaha agar usaha saya ini membuahkan sesuatu yang layak dibaca dan bukan hanya sekedar diselesaikan. Buku-buku yang saya cari adalah mengenai ekonomi makro, sambil kembali mencari-cari kesalahan para pengambil kebijakan yang terlalu maniak dengan angka-angka yang dihadirkannya.

Namun ah, sudahlah, toh perpustakaan tak pernah sepi juga, siapa tahu ini hanya sewaktu saya datang saja hari ini. Jika saya melihat sekeliling, saya dapat melihat ekspresi yang menggelitik. Dua orang laki-laki muda beradu bisik tentang suatu buku, mungkin sebagai pengganti perdebatan a la mimbar yang harusnya lantang. Seorang pembaca wanita berkerudung oranye terkikik membaca buku entah apa. Ada pula pemuda berkulit gelap yang mengantuk di depan tumpukan buku yang ia pilih dari rak. Pengelola perpustakaan berseragam batik pun terlihat sangat profesional dalam memperbaiki sambungan instalasi listrik ke AC yang nampaknya bermasalah.

Jika santai saja sambil membaca buku, saya pikir sudah merupakan wahana berjalan-jalan juga,karena kita menemukan dunia baru di dalam bacaan. Orang bilang namanya eksplorasi pikiran, soalnya bisa merangsang kita untuk berpikir, berfantasi, dan menjadi bijak. Jadi oke juga kan, ketika akhir pekan dihabiskan di perpustakaan?

Wednesday, June 08, 2011

Tengah Malam

Jadi malam ini saya tidak bisa tidur lagi, lalu saya menonton filem berpakem perang-perangan di netbook (menyedihkan ya) dan melanjutkan beberapa e-mail yang harus saya kirim segera. Kamar saya belum disapu dari kemarin, baju belum dicuci tapi oh, lihat saja besok semua ini bisa diatur lah. Kipas angin menyala, dengan setelan ukuran kekuatan angin di angka satu, dari skala tiga. Arah anginnya statis menghadap meja belajar, yang letaknya persis menghadap jendela kamar berteralis yang cukup lebar. Bukan dengan maksud mengeringkan buku yang ada di atasnya, ataupun mejanya, namun karena saya tidak begitu suka angin kipas yang langsung mengarah ke saya.

Saya juga baru nyemil mi instan berkuah, karena lapar. Saya makan di kamar, di atas meja belajar dengan gaya santun seperti presidennya bangsa Indonesia. Sesekali saya menengok dan mengintip ke luar rumah dari balik jendela, karena cukup tertarik dengan suara-suara yang tidak lazim. Atau mungkin terlalu sensitif, tertulis di buku-buku biologi bahwa indera manusia memang lebih "menyala" ketika terjaga di malam hari. Harapan saya sih semoga wilayah Paseban tetap aman siang malam dari segala mara bahaya dan penyakit.

Setidaknya besok harus lebih produktif dari hari ini. Bukan hanya makan dan jalan-jalan saja, namun juga memikirkan dan melakukan sesuatu untuk hidup saya yang lebih yahud kedepannya. Puncak malam ini akhirnya ditutup dengan alunan gitar klasik Jubing Kristianto yang memainkan lagu Billy Joel yang bertajuk She's Always A Woman sambil berharap besok tidak ada lagi hati wanita yang disakiti, biarpun disini wanita dituduh biang keladi derita. Semoga.

Wednesday, December 10, 2008

Catch A Glimpse!! Check Your Japanese Language Mastery, Officially!

I was tickled first when the Japan Foundation announced the application for the Japanese Language Proficiency Test (JLPT) or else is known as Nihongo Nouryoku Shiken at the early September this year. This is my first time enrolled in such exam. I excitedly applied for the test and had myself a test voucher to take with this month. I picked level 4 from the entire 4 levels. I just wanted to measure my capability on Japanese language and gain feedback from it in the end. The items required for the test consisted of moji goi or the mastery of kanji (the Chinese characters which adapted into Japanese means), choukai or listening exam that was consisted of only 17 items, and the final part was about bunpou or syntax and vocabulary in Japanese.

In the meantime, I didn’t exercise much due to preceding task of my KKN and preparation of my graduation theses which was absolutely exhausting and confusing. Nevertheless, the result was beyond less expectation that I failed to make it into strategically planned. When it approached the d-day of the exam, I hurried the tempo of studying accompanied by my seniors Hamidah and Isti; they supported me in giving studying resources and taught me on how to deal with grammar items. I borrowed kanji exercise book which it eventually more suitable for expert and I got myself bewildered by the kanji strokes which exceeds 15 strokes. It really shattered my mind out, hehehe.

My seniors told me that there was nothing to worry about, the exam would be just fine and they believed in me. What a supporting occurrence, while I was afraid to give much confidence regarding my very self. I had not greatly experienced in revising Japanese even though I had learned it since the end of my high school term. Chiefly, my aim to study foreign language is to affix my capability in literature, since I’m always interesting in writing and literature stuffs, thus I’m dreaming of translating foreign books and journalisms into Bahasa Indonesia, like the ACT bids me to join them someday.

The test was planned to take time on 8 am, Sunday, December 7 - 2009. However, there was some inconsequential fact when I prepared before the day the test was executed. I stupidly learn the expert kanji and forgot to engage myself with the simplest one I even couldn’t handle! I studied till late of the night accompanied by my friend, and we got stunned due to Spiderman 2 movie on TV. At the morning, I rised late and couldn’t make my time for breakfast. And oh, it was raining, but not hard, out there. I was dashing to catch a bus to take me to Fakultas Ilmu Budaya UGM. When I got there, I should hunt for my test location which was room D 111 of INCULS…. Oh what a tiring sprint…. And next? The test was seized late, for about 90 minutes and it just about took away all my fortitude. The class was rather small and convenient, with only 15 test participants inside it. I fortunately got to the first row of the seats and it helped me concentrate a great deal.

The test was best explained as remarkably gorgeous!!! I’m sure I’ve done well that time. During the transition among 3 sections of the exam, we the participants was given the time to take a diminutive break, and yeah I had sufficient slight break to breathe. To conclude, it ended at 12.30 pm, and well it was still raining at the faculty. But I’d rather satisfied with my work and I’m waiting for March 2009 to take delivery of my score result.

The JLPT is organized once a year, usually the end of the year. The Japan Foundation sought after institutionalizing the requirements to enter Japan by holding such test, so that they wouldn’t get “lost in translation” if coming to Japan or applying to Japanese company worldwide. This occasion also only take place in certain spots, like Gadjah Mada University Yogyakarta, University of Indonesia Depok, Bandung, Makassar, etc where Japan Foundation established its representatives.

The JLPT is welcoming everyone to register, not merely those who take part in certain academic institutions but also for everyone concerned for it. The score, if we pass the exam, could be used as a value-added means of your foreign language mastery, especially for applying for institutions that concerning about foreign affairs, literature, Japanese companies and representatives, or even continuing your education overseas to Japan. After all, learning foreign language is much of an investment to yourself and don’t even lead to a waste if you really fond of it, while we could gain our knowledge and wisdom much more.

Visit JLPT and Japan Foundation official web page.

Monday, October 27, 2008

Spare Time and Weirdo Weather




Well, nothing much to say about what the last semester college student is doing. Nothing but her undergraduate theses. Apparently, there has been no interest of thinking about it, moreover, working over it all the time. I’m not the kind to do such paperwork, I’m not as rushed as expected to finish it out soon. Oh yeah, and by time I started it out, boredom also occurs when all I got left to write was nothing.

And again, the weather currently has gone nuts. I’ve got no idea why is it so humid outside while the sunlight also stroke down the whole land. It’s like you are steamed all day even when it comes to nights that you wouldn’t keep your cooling agent away from you. Some newspaper said the temperature had reached for almost 40ºC. The most annoying part of the curse is the indiscriminate blackout policy of PLN. Thanks to PLN, my schedule of working my theses messed up.

Another impact of this stung weather, my defenses crumbled. I fell into murderous illness again, that surprisingly I couldn’t stand the pain as usual. The strive continued so that it really did stuck my plan. This is the end of the month, and I should resolve all my documents needed to be submitted before November, or I’ll never finish on February. Well I’ll try to loosen up my target at last.



It’s not like I’ll drown myself deeper into this, so I’m looking for some refreshment. Gathering with friends always put you at ease, because sharing your experiences heals the pain, for sure. Yesterday, I and my friends had a cheerful time. We forced our butts to move to the appointed location on my friend’s Darmaputra Students Dormitory UGM next to Krida Mandala stadium. We were plotting to serve ourselves “rujakan” together, but nobody knows why the pleasure came to an end while the guy who got the fruits even weren’t showing his head off. Didn’t want to be pulled away in disappointment, we just spent the time exchanging stories of holidays and stuff, it was a definitely fun breakthrough, until we all rolled on the floor laughing and shed so many tears of happiness [hehehehe….], and never forget to picture ourselves together ^o^. Halfway later, we went to have a dinner nearby, and went home exhausted.

I hope there will be more celebration, when it would come to the Jogja Debating Forum’s [JDF] League next week. Hmm, cannot wait for the reunion, since it’s been a long while I don’t have spare time to meet my comrades, my best friends, my rivals as well, from all over backgrounds and ages. I liked competition and will always be, because that enriched my courage. The event would be held by JDF on Universitas Negeri Yogyakarta, a convenient place to debate with tranquil breeze. The event would use British Parliamentary system, so that I have to get one partner to fight the enemy with. My buddy is Mr. Teddy from UNY and I could imagine what my team would be!!!! We’ll be the freakiest team as two morons consolidate to fight back “IKAN KAKAP” the big fish of JDF huhehehehhe Still I hope the weather wouldn’t breakdown for fishing. *evil laugh*

Time to take my time. Ask your true heart, what should it be then. I like what I do, I do what I like, there’s no need to hurry, just relax.

Monday, June 30, 2008

Rehat Sejenak

Wahai blogwalker yang budiman...
Dalam rangka mengikuti Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat [KKN PPM] 2008, maka blog ini jadi ikut cuti selama dua bulan. Program yang saya ikuti adalah Pemberantasan Buta Aksara [PBA]. Kurang lebihnya begitu, meski sebenarnya bulan lalu saya tidak pernah memperbaharui post saya, he he...

Mendapatkan lokasi Plotting di Desa Wadungan, Wonosobo, membuat saya jadi sibuk mempersiapkan barang bawaan yang sangat banyak, terlebih lagi desa tersebut letaknya di daerah pegunungan Sumbing di mana kabarnya desa tersebut merupakan desa yang lokasinya tertinggi di Wonosobo.

Yup, dari sini saya memohon doa bagi kelancaran KKN kami tahun ini. Semoga apa yang kami lakukan dapat memberi kontribusi yang optimal bagi masayarakat sekitar.

untuk lebih jelasnya tentang KKN-PPM UGM, silakan klik di sini

Adios, sayonara, pareng...

Thursday, November 29, 2007

Mengenai Melancholy


Mungkin akan sulit bagiku untuk memulai menulis sesuatu yang bernuansa sedikit romansa dan filosofis. Mengapa? Karena mungkin... aku seorang yang lebih praktikal, lebih menyukai proses serta pekerjaan; dan agak menafikan apa yang melatarbelakangi mengapa sesuatu terjadi. Meski begitu, aku juga mendapat manfaat dari merenungi diri dan menelusuri apa yang terus membayanginya dengan mencari penjelasan sendiri. Itulah mengapa title blog ini adalah Eva no Logy no Melancholy. Melankoli menggambarkan diriku dengan sangat tepat.

Beberapa lama belakangan ini, suasana hatiku memang terasa sedikit aneh. Sepertinya ada yang hilang. Makanya menjadikan blog ini sebuah melancholy mungkin suatu pilihan untuk menggambarkan keganjilan yang kualami. Tidak mau terdiam membaca tulisan seorang alien, yang ternyata senior saya Mas Rum, maka aku berniat membuat sudut pandang lain mengenai hal-hal melankolis.
Dalam ilmu psikologi (betulkan ya jikalau salah) terdapat empat macam kepribadian dasar seseorang menurut Sigmund Freud, yaitu Sanguinis, Melankolis, Plegmatis, dan Koleris. Mungkin kalau anda tanya pada ibuku, beliau akan mampu menerangkannya dengan bahasa pemuda-pemudi Indonesia masa kini, terlebih gelar S.Psi telah disandangnya. Khususnya melankolis, dalam tinjauan ilmiahnya (memang) dilihat sebagai suatu keganjilan dan ketidakseimbangan hormonal yang menyebabkan seseorang mengalami guncangan mental. Bisa ringan bisa akut, tergantung gejala emosional yang ditimbulkannya. Hal tersebut muncul ketika seseorang mengalami depresi, takut, dan phobia yang berlebihan akan sesuatu. Hal tersebut telah diteliti sejak sebelum Masehi hingga masa Renaissance di mana semua hal dilukiskan dalam seni yang romantis dan menggugah kehalusan perasaan manusia. Mood atau suasana hati dapat tergambar ketika kita mengapresiasi sesuatu yang menyentuh hati, membuat kita ”ditekan” olehnya.

Misalkan kita mendengarkan sebuah lagu yang romantis, menonton pertunjukan yang menguras air mata, ataupun sekedar bertengkar dengan teman baik; dapat membuat pikiran rasional hilang, dan kita diambil alih oleh guncangan emosional. Banyak perilaku dan ritual, mendasarkan pada emosi akan pencapaian ketenangan perasaan. Sebut saja kaum Yahudi lama yang memuja hari Sabtu demi mendapat perlindungan batin. Kita dapat melihat bagaimana melancholy ada dalam budaya pop, saat aliran musik Emo mulai mendapat tempat di studio rekaman grup cadas. Tema yang diangkat dalam emo merupakan manifestasi sisi gelap manusia, bagaimana depresi dapat mengajak kita bunuh diri, bagaimana kita hancur karena dihantam bumerang kebaikan sendiri, dan terlebih lagi tema cinta yang diangkat juga bernuansa ”tidak bahagia”. Terlebih lagi para pengikut emo membumbui semua itu dengan musik berketukan tinggi frekuensi dan hingar bingar.


Namun lebih dari itu, aku merasa semua orang pasti mengalami ketakutan, depresi, bahkan di bawah sadar sekalipun. Melankoli yang ada di dalamnya merupakan potensi kehancuran bagi diri sendiri. Lalu kita menjadi objek kesedihan orang lain dan menjadi referensi ketidakpatutan. Di samping itu, melankolisme menjadi suatu jalan penemuan diri bagi yang menanggapinya positif. Guncangan mental ini, yang berupa kemarahan, dendam, ketakutan akan dosa dan kematian, psikosis, rasa malu, serta kebencian, sebenarnya memiliki obat yang mujarab yaitu disiplin pengendalian diri. Hal utama yang disyaratkan adalah percaya diri. Dengan memilikinya, berbagai metode dapat dilakukan untuk tidak terlarut dalam emosi. Contohnya memberdayakan pemikiran rasional, disiplin moral, berpantang dan berpuasa, seperti yang diikuti penganut Avicennan.


Jika dituangkan dalam seni, pasti melancholy akan sangat bermakna. Berbagi dengan orang lain juga dapat membuat kita mengerti bagaimana emosi harus dikendalikan. Sekali lagi, aku lebih suka memandangnya dari segi praktikal, meski sesungguhnya melankoli menjadi sesuatu yang kadang merusak, lesu, dan butuh pembebasan. Banyak sekali orang melankolis sangat menyukai hal yang berbau kebebasan, karena secara batin dan utamanya mental, mereka terkurung. Mungkin kita dapat menemukan pembebasan itu, dengan menemukan kekurangan yang sama dari orang lain yaitu penderitaan yang sama. Jika kita dapat berbagi dan merasa senang karenanya, kita akan menjadi seperti conjuctio Solis et Lunae (perkawinan mistis antara matahari dan bulan) yang dipopulerkan Carl Gustav Jung mengenai pendapatnya tentang cinta.

Tuesday, November 27, 2007

Masih Bingung mencari Fokus

Fokus! Itu adalah kata yang sangat penting buatku sekarang ini, dan maunya semua orang bisa mingingatkanku buat tetap konsisten pada apa yang kukerjakan. Tak bisa dipungkiri, menjadi mahasiswa Hubungan Internasional (HI) di UGM saat ini memang terkesan agak santai dalam prosesnya, dan masih relatif dapat dipertahankan untuk diperjuangkan. Mungkin banyak pembelajar dari fakultas ataupun jurusan lain yang agak mengerutkan dahi dan alis ketika mendengar bentuk skripsi mahasiswa HI yang sekilas kelihatannya cuma sebuah studi pustaka atau review saja. Bahkan ditambah fakta bahwa hanya dengan minimal empat puluh lembar bagian pembahasan saja, seorang mahasiswa sudah dapat berdiri di depan dosen penguji skripsi.

Namun ternyata sangat mudah untuk membayangkan bahwa banyak sekali yang kebingungan akan mengangkat masalah seperti apa, seakan-akan dunia politik internasional masih adem-adem saja. Padahal sekarang ini konstelasi politik global sedang mengalami transisi yang demikian cepat hingga dengan tak sadar kita telah berubah pula karenanya. Fenomena globalisasi yang dibarengi gerakan resistensi telah memberi banyak isu untuk dibahas. Isu minyak di Amerika Latin, globalisasi Linux, bahkan fenomena blogging telah memberi jalan baru bagi para pencetus propaganda untuk menyebarluaskan opini.

Di lain sisi, sepertinya aku juga kebingungan. Hmm... mekanisme self-tailoring yang digagas oleh kurikulum HI UGM tahun 2000 juga kurang memberi panduan bagi mahasiswa untuk mengambil mata kuliah, di samping sifatnya yang memang membebaskan mahasiswa guna mengambil kuliah yang diminatinya saja. Sebagai gambaran, aku mengambil Minat Topik Ekonomi Internasional, serta Minat Kawasan Asia Timur (China, Jepang, dan Korea Selatan). Seperti kata Pak Yahya Muhaimin, mantan menteri pendidikan era Megawati sekaligus dosen HI, bisnis dan politik ternyata sangat berkaitan dalam dunia internasional. Maka akhirnya aku memutuskan untuk fokus di kedua minat tersebut. Tapi semuanya jadi agak aneh kalau tidak mengambil kuliah yang lain juga. Akhirnya beberapa mata kuliah Minat Pertahanan Kemanan Internasional juga kuambil, plus satu mata kuliah Amerika Serikat. Wah, lumayan juga menjalaninya, namun menggabungkan pengetahuan juga lumayan memeras otak. Terlebih tugas-tugas yang tak pernah berakhir selalu berganti tipe dan metode, semakin menambah semarak bintang-bintang yang berputar di sekitar kepala.

Sekali lagi aku ingin tetap fokus, konsentrasi di sentral belajar yang aku susun. Eh, malah banyak sekali hal lain di luar itu yang menarik perhatianku. Sebagai mahasiswa yang sangat berminat dengan segala kegiatan jurusan, aku dan teman-temanku juga banyak mendapatkan ilmu dari luar kelas. Sudah tak terhitung dari mana saja aku menemukan minat di luar fokus. Akhirnya, aku juga sudah mulai menemukan ide untuk skripsi nanti, dan untungnya aku masih tetap setia dengan Asia Timur. Aku memang suka sekali kebudayaan oriental, terlebih lagi gaya politiknya sangat akulturistik, beda dengan daerah lain di muka bumi ini. Mungkin, nanti aku nulis tentang strategi sekuritisasi ekonomi Jepang pasca renggangnya hubungan Japan Incorporated jamannya PM Satou Eisaku (duh, kenapa aku maniak sekali dengan Japan Incorporated ini ^.^), atau bisa juga pengaruh perkembangan reformasi chaebol terhadap naiknya Kim Dae Jung sebagai presiden. Yah pokoknya temanya itu dulu, judul pastinya nanti dipikirkan habis bertapa, hahahah... (nggak gue banget itu). Huh, jadi teringat betapa aku akan lulus dalam waktu yang agak lama, mengingat kuliahku santai sekali, tiap semester mengambil paling banyak 22 SKS. Memang hal itu tujuannya untuk bisa lebih fokus belajar serta mendongkrak nilai yang lebih optimal. Meskipun bisa dikata IPK-ku memenuhi syarat untuk mengisi 24 SKS penuh di KRS-ku.

Menilik dari hasil belajar sebelumnya, sepertinya lebih fokus menjadi suatu keharusan. Terlebih lagi ada keinginan untuk mencapai sesuatu, kesempatan terakhirku untuk mencapai hal “itu” lagi. Masih mau lagi. Kemenangan mutlak harus ditargetkan untuk maksimalisasi hasil, baik akademik maupun non-akademik. Tapi susah sekali memfokuskan diri itu. Meskipun sudah menetapkan diri dengan melaksanakan study oriented, masih ada saja yang menggangu pikiran di tempat lain... Hmmm hhehehehe... disiplin itu susah. Apalagi aku hidup ditengah orang-orang santai sehari-harinya. Huh.

Hitorikiri dakedo, boku wa chigatte naraba, kurayami de ano shin chikara wa boku ga tasukete yo.

Tuesday, October 09, 2007

Vacation's Haste

Packing adalah cara kita mengemas barang-barang yang akan kita bawa di dalam tas atau ransel. Biasanya dilakukan saat kita akan bepergian dalam waktu yang lama. Nggak perlu jauh, kalo lama walaupun cuma numpang tidur di kos temen kan pasti butuh banyak pakaian buat dibawa. Yang bikin sebel adalah banyaknya barang yang dibawa padahal kapasitas tasnya terbatas. Uugh berat.. apalagi bukan cuma baju, kadang2 stok makanan pun turut menyita tempat. Hal yang bikin gerah terutama buat orang2 yang lebih mengutamakan bawa makan daripada pakaian [ini sih aku, hehehehe.... *tawa setan*].Apalagi pas musim orang mudik begini [duhh nggak ikutan mudik nih T_T masih nanti hehe :D]

Sebenarnya packing adalah suatu seni tersendiri yang membawa efek rasa puas yang melegakan jika kita bisa mengaturnya dengan rapi dan efisien. Aku jadi inget waktu ikut Pramuka dulu. Tapi buat yang cuma traveling biasa, ya nggak perlu repot kayak mo ikut jejak petualang. Tas yang akan kita pake bepergian sebaiknya waterproof kalo perlu bulletproof --->anti peluru geto [emangnya mo perang!!] Pakaian berat seperti jaket, selimut, dll pokoknya yg lebar2 ditaruh di bagian tas yang paling dasar, disusul di atasnya ditumpuk dengan pakaian kita sehari-hari atau pakaian rumahan gt deh pokoknya. Nah, pakaian yang akan kita pakai untuk kegiatan/acara baru ditaruh di atasnya lagi. Ingat pokoknya baju jangan digulung nanti cepet kusut. Oh ya, baju2 dari bahan yang cepet kusut sebaiknya ditaruh di tengah2 tumpukan isi ransel biar kekusutannya gak tambah parah.

Lanjut, di tumpukan paling atas baru ditaruh pakaian dalam, alat mandi dan toiletries [handuk, bedak, sabun dsb], serta kaos kaki, sepatu, sandal, alat tulis buku dll dan topi dan sebangsanya kayak sepupu ku yang jg sampe bawa catok n hair dryer segala!! Nah penataan ini berdasarkan urutan pakaian yang paling kita butuhkan sampe yang paling less-priority [nggak sering dipake]. Pertimbangannya, mandi dan bersih-bersih serta pakaian kegiatan kan yang paling mendesak, jadi agar tidak merusak tatanan yang kita buat waktu packing [maksudnya biar gak bongkar2 tas lagi] maka kita taruh di bagian atas.

Lalu obat dan makanan [baca:snack] ditaruh mana dong? Hmm sebaiknya kita membawa botol minuman ukuran travelers’ pack jadi kita punya tempat minum sendiri n ga bw yang kemasan. Supaya gak tertukar dan gak bocor di dalem tas. Kalo sekali2 butuh maem n minum kan gampang. Ini ditaruh di kantong2 tas ransel kita di bagian terluarnya, terutama di bagian sampingnya supaya nggak penyet/gepeng kalo nggak sengaja diduduki atau disandari. Terus di kantung yg lain baru kita masukin obat bwt jaga2 plus tisu, saputangan dkk... Begitu lho. Kalo makanan sih bisa juga ditaruh di tas plastik ato tas karton kalo bawanya banyak.

Itulah seninya packing... yang perlu diinget jangan sampe ada ruang kosong dalem tas soalnya ya percuma aja, gak efisien. Tas harus diisi semaksimal mungkin supaya gak menyita banyak tempat dan sebelum berangkat periksa kondisi tas supaya bisa melindungi barang-barang kita dengan baik. Yosh... semua udah siap... selamat jalan, bon voyage... michi de ki wo tsukete yo... omyage ga wasurenai de ne?!

Aduh. Packing itu memang yang paling bikin males. Tapi perginya bikin senang. Perjalanan selalu menyenangkan buatku, asal cuaca dan jalan bagus,plus gak macet n mogok. Heh langsung bablas dah. Pengalamanku yang paling ngebetein tuh pas tahun baru 2000. Semua orang kayaknya mau ke Bali kayak aku... Wuih apalagi katanya ada acara tahun baru milenium di GWK itu, turis2 pada bejubel waktu itu. Waktu itu aku naik mobil sekeluarga. Berangkat subuh2 dengan harapan biar gak ngantri lama di pelabuhan Ketapang,plus ngebut2 dikit gt lah. Brrrrrmmm.......

Sialnya, DELAPAN kilometer sebelum pintu pelabuhan, terjadi macet besar2 an karena kapal Ferry yang ada cuma sedikit jadi nggak bisa nyeberangin mobil2 yang segitu banyaknya [walo sebenarnya udah ada penambahan unit Ferry sih]. Kendaraan pada merayap nggak jelas dari kedua arah Gilimanuk dan Ketapang. Pokoknya sehari semalem mobil2 ngantri. Seingatku pas tengah malem besoknya baru bisa ngantri di pelabuhan. Aduh bete banget. Makan minum susah, mana bensin stoknya abis.

Kalo lagi jam penyeberangan, sopir2 pada tidur termasuk bapak ku. Gak peduli tu di sebelah kandang sapi ato depan kantor lurah. Hehe... Yah keluarga di Bali selalu memantau lewat siaran TV sambil sekali-sekali telepon nanyain udah sampe di mana. Kalo nggak salah waktu itu aku menghitung dari mulai ngantri sampai masuk Gilimanuk tuh ngabisin sekitar 26 jam bo’!!!

Huh nggak lagi deh yang kayak gitu. Mana gak sempat mandi n santai2. Tapi seru juga lho buat dicerita2in, apalagi banyak kejadian aneh yang ku alami sama keluarga. Merasa menjadi manusia super setelah mampu bersabar melewati rintangan itu. Hoho yah begitulah namanya mudik, deritanya tiada akhir...Kya hahahah ^o^ Yang penting perhatikanlah packing-an mu hyeha!!
Hmm miss ya there friends... Apalagi katanya sepupuku lagi ada di Malang...
Aku nggak di sana.. -_-; pengen pulang. Pengen masakan mamipapi.... T_T

Thursday, October 04, 2007

Hero's Come back... later

Orang timur bilang kalo semua hal perlu tata cara,unggah ungguh, awig-awig, atau apa namanya lah. Kalo masuk harus ketok pintu, kalo pergi harus pamit. Harus selalu ingat keluarga, harus sopan saat bicara sama yang lebih tua. Tapi lebih senang rasanya jika nggak jadi pusat perhatian dan pusat penilaian gara-gara tata krama. Soalnya tata krama kadang tak fleksibel, tidak berdasar dan social order yang diharapkan malah menjadi chaos semata.

Termasuk kalau anda tiba-tiba kabur dari kerumunan tanpa jejak, tanpa pesan. Apalagi jika kerumunan itu adalah orang-orang terdekat anda dan mereka merasa dikhianati setelah anda pergi dalam sekejap dengan tidak satupun konfirmasi yang anda berikan. Mereka merasa tidak dipercaya, serta tidak begitu berharga bagi anda untuk sekedar dipamiti, misalnya. Lalu pas anda balik ke kerumunan itu, sudah nggak ada tempat lagi bagi anda. Mungkin udah diisi orang baru. Yang lebih asyik dan lebih patuh, mungkin.

*menghela nafas*
Kadang kita butuh istirahat untuk mengembalikan kondisi kita ke tahap default state, kayak komputer yg harus di-defrag dan kayak mobil yang di-tune up. Mungkin mereka bukan orang yg bisa mengerti hal itu, tapi pasti nanti mereka akan mengerti bahwa tidak semua hal harus diungkap. Termasuk betapa pentingnya orang-orang yang dekat dengan kita sehari-hari. Sekarang, sampai detik ini aku masih sulit menemukan suatu waktu buat benar-benar istirahat. Untungnya aku nggak pernah ngeluh secara langsung akan hal ini dan nggak bikin orang bete karena keluhan tentang itu. Aku juga pernah merasa nggak diterima di kelompokku sendiri, tapi ternyata itu cuman masalah perasaanku aja, dan kejenuhan semua orang yang terakumulasi jadi satu. Untung pula, bukan hanya aku yang mengalaminya.

Kapan ku bisa istirahat. Liburan di bawah sinar matahari dan angin sepoi-sepoi yg bikin ngantuk... Diiringi debur ombak yg menghantam karang... Untuk itulah ku kadang-kadang menghilang tiba-tiba... Tapi yg sekarang ini mungkin...harus dengan kerja keras. Aku selalu mau kabur, pergi tanpa pamit, tapi kesannya gak bertanggung jawab terutama sama diri sendiri. Yah apa daya udah mencapai klimaks. Namun sekarang, lebih dari itu, ada beberapa nama baik dan image yang harus kupertahankan, kalau perlu harus diperbaiki. Memang tugas yg berat, tapi ini pilihan sendiri. Kesempatan sudah didapat mengapa tidak?

Apalagi setelah kembali malah dibuang orang-orang dan tak ada yang menunggu anda kembali.Wah jangan sampe deh. Kupikir, itu cuma perasaan orang yang kesepian aja. Pastikan mood selalu baik. Berpikir positif dan akan ada kerumunan baru di mana orang2 seperti anda akan berkumpul dan bercerita bersama, dan yasudah, pada akhirnya segala sesuatu akan datang dan pergi, orang2nya juga, tapi jangan kehilangan diri kita.

Dan saat kita kembali dgn senyum kemenangan, kita hanya akan mendapatkan apa yang pantas kita dapatkan. Eliminasi semua pikiran jahat...dan terus berjalan semoga semua hal menjadi mudah dalam hidup ini. OSSSO.

Monday, August 20, 2007

The End Of The Comfort Zone

This is the last day that I enjoy my holiday in Malang. It isn't so special since my activities are only hanging down at home and sometimes going out for a refreshened meal ^^. I was able to practise my hobby like sleeping and eating that much so that I gain my weight up to 57 kgs... Hehehe. It was then that I realize this is also not bad. I got enought time to retreat and filling my days with an absolute fun. I don't regret any single thing that I've done. I'm glad I finally I have time to help my parents and my sibling, just to had a little meaning of my holiday back then.

My friends were already busy on their own, some were involved in an extra lecture, some of them taking some courses to deal with as well. There are no reason for me to keep up for something like that because I've already done... When the time is so enjoyable for me, I really comforted into the comfort zone while everyone's in my reach and everything is just okay. I just wonder whether this is a point of turning back. Everyone's on their future view... I realize that yes indeed friendship and relations are faded away in sight but not on heart. I know that everyone's busy and got no chance to provide you enough share, comfortable talk like we did before.
Hmm.. plus, in this holiday, I also celebrated my 20th birthday. It was so sad that I grow up so much faster than I thought. I hate responsibility so much, that lately i should begin to handle it. It's the last day of this holiday in Malang, again. From now on, I should behave like mature people *sigh* and think as a mature and more controllable person, and become she who had a rejoiced future *ngayal mode on*
On the plan ahead, I still got my shot to repair my mark -_-; with still 21 semester credits to take this semester. I still hope and I still try my best to make my dreams come true... that is my deepest wish that I never reveal to anyone. Nobody knows about it. I was failed. However there is no reason to withdraw, as long I have my way I will walk and to test how though I am... Therefore, i should walk to a wider range of way, out of the comfort to find my challenge.
Still got so many things to do.

Thursday, May 24, 2007

i torn my pants at campus

guys i've just finished my presentation about eco-terrorism in RNA's class -- seminar on the environment-- with my left side of my trousers were torn and remained a hole. currently i'm still wearing it. how shame. hehe, it was when i tried to approach the class coz it's nearly about to begin. when i crossed the road in the northern side of law faculty, my friend Adibah came and offered me a drive to the campus. but when i got the ride on, the "plat nomor" of the motorbike scratched my pants out of my knee. accidentally, i was unaware until i got down from the motorbike and suddenly changed my mind to just flee home.... aaarghh!!

well finally i took it easy as nobody cares of it too much. and some guys mentioned it as cool... well at least it has become another strike for my unlucky event this week including hell a lot of missing money,,, T_T and suffers more from the heavy tasks and papers.
But after all, my presentation was going on well and life goes on as usual. As usual, yeah, i ignore everything that happens to me and i become numb. i torn my pants that it also give me another blow that it's fun and everybody spotted on it while relating it to my harrashful behavior... it becomes reminders for me that i should be careful... in any other way...

Friday, May 18, 2007

Hell Yeah!!!

Anyway,
i'm now finishing downloading naruto shippuuden 13... wow ut was really slow shitted dowload where finalli i made it, yeah!!! But another things come to my schedule is that i gotta download the orenji renji "ika summer" new single!! Not just it, i'll made my first sufficient contribution and upload some stuffsdown there in multiply.

Well, the situation's been down lately. lazy me.

Thursday, April 12, 2007

I'm Getting Serious

Hereafter,
wishing you all a good luck. Now I am headed to mid-term exam on my department, 3 exams left and i've got to improve on my lecture but why the heck now am I standing here?? LOL

There was exam on Political Economy of Development lecture, and it was a verbal exam. The examiner were 2 of my lecturers, they were mrs. PSW and mr.RNA. I'd got questions about the debate of property right between Adam Smith and the Marxist arguments. Another one was about the three type of legitimate order, related to Max Weber's arguments on rationalism. Yokatta!! I had it enough of stomachache when I was after the exam, along the road... but instead of it, it's typically common for the student to get dizzied up while waiting for the turn for facing such exam.

Thank God it ends, but the question is, why the first half of the semester even didn't gave us --the student-- enlightment on how is it related to development. I am a little bit wondering about where could we identify the works of classical Economy Theorist on the rencent development? Yes it's quite clear for us all for having theories before it ends up with the practical ones. Another thing which I couldnt understand is why the exams should took form in such a way?? I feel that it was not necessary to claim success or to affirm accomplished lecture based on exam like that.

I hope there will be a more enthusiasting form of exam....