Tuesday, November 27, 2012
Menjadi Sadar
Tuesday, September 25, 2012
Piece of Absurdity
Sunday, August 05, 2012
Di Tengah Kebosanan Suguhan Film Superhero
| Batformers |
Ya maaf kalau saya belum tahu, ya.
Thursday, August 02, 2012
Jakarta and Holiday : Wrong Pair of Shoes?
In short, getting through the holiday in Jakarta would mean shopping, if not just culinary adventure. Here we have The Jakarta fair (sort of huge festival bazaar), Jakarta Great Sale, or live music on the street and sometimes on Seven Eleven shops. Well at least on family getaway, you will at most would drive to north Jakarta's Ancol and Dufan, or end up in Ragunan zoo.
Personally, I am not a frequent money spender, while basically I don't feel like relieved in the midst of the crowd. Shopping is not my thingy. My fatigue suddenly taking me over if I look around shopping squares too much. I simply could not stand the noise. Live music, yes, but not of them who performed on the pavement of convenient stores. In the midyear and school holidays like those days passed, it's getting boring. Especially when you don't have any friends to roam around, any sweet smelling cafes in Kemang will turn out very lonesome.
Great for doing business, but not for leisure. We should all admit that this is a town of no joy, don't even push yourselves to enjoy. My advise is don't come near there when you have holiday, with all respects, I hope all parents take their children outta the city for awhile, just to experience nature. For youngsters and socialites as well, feel the showers of glamorous disco lamps as you like. But don't forget to balance this to meet the fantasy of clear blue skies, or just to strolling around the tea plantation before you go further climbing a mountain.
Jakarta is not for a perfect holiday. They are not a pair of shoes. When you try to walk on them, you'll likely feel uncomfortable in no time.
Saturday, November 26, 2011
Integrasi Ekonomi Asia Timur : Meraba Bentuk Dalam Temaram
Telah lama, integrasi ekonomi ditandai dengan kerja sama perdagangan bebas, namun koordinasi ekonomi menjadi tantangan bagi negara sedang berkembang dalam menghadapinya. Kebutuhan akan sumber daya manusia dan infrastruktur memadai, seringkali menjadi hambatan terbesar. Masalah yang relevan untuk diangkat dalam kondisi seperti ini bukan lagi bagaimana negara harus menyesuaikan diri terhadap regionalisme ekonomi, namun bagaimana suatu kawasan harus mampu membentuk pola kerja sama regional yang sesuai dengan karakter kawasan tersebut, bukan hanya imitasi dari sistem integrasi yang telah ada sebelumnya.
Permasalahan tersebut esensial, terutama dalam menghadapi struktur kerja sama ekonomi Asia Timur yang lebih banyak memiliki institusi maupun bentuk kerja sama yang dilaksanakan di Asia Timur. Banyaknya jumlah kerja sama ini tentunya menguntungkan posisi tawar negara sedang berkembang layaknya negara anggota ASEAN, namun juga menyisakan masalah institutional order. Di Asia Timur tidak dapat ditemukan adanya suprastruktur yang megimplementasikan aturan interaksi antar aktor, baik negara maupun non negara.
Hal tersebut dipertegas oleh Baer, et. al. (2002) yang mencontohkan evolusi Mercosur di Amerika Latin yang sangat kurang dalam kebijakan koordinasi. Koordinasi sangat penting sebagai tonggak institusi yang mapan. Hampir pasti faktor kepemimpinan sangat berperan dalam menjalankannya. Namun perebutan posisi “pemimpin” ini kadang menimbulkan ketegangan. Di Amerika Latin, Brazil dan Argentina menampilkan persaingan dagang yang terlalu ketat, serta mengalami divergensi yang terlampau besar dari segi makro-ekonomi.
Brazil sebagai salah satu kelompok BRIC cukup berperan signifikan dalam memainkan mata uang Real sehingga volume perdagangannya dengan anggota Mercosur lain dapat direkayasa. Di sisi lain, peran Brazil terlihat lebih mengutamakan stabilitas makro-ekonomi kawasan daripada integrasi kawasan. Hal serupa terjadi di Asia Timur, di mana China merupakan negara yang relatif dominan dalam makroekonomi hingga ke sektor riil dengan memainkan kurs Yuan. Namun di Mercosur, proteksi terhadap komoditi utama masih boleh diberlakukan, serta perdagangan dengan pihak luar-Mercosur masih terhambat karena persoalan kurs uang.
Membandingkan pola kerja sama ekonomi di kedua kawasan, dapat terlihat bahwa selalu terdapat aktor negara terpenting dalam mengarahkan integrasi kawasan. Political will sangat berperan dalam membentuk integrasi tersebut, dan hal ini kadang harus melalui proses tekanan politik yang kolektif. Asia timur yang lebih heterogen dari Amerika Latin harus mampu membendung China dengan upaya-upaya kolektif untuk tercapainya integrasi. ASEAN juga harus mampu meningkatkan perdagangan di antara mereka sebelum mulai berdagang dengan negara lain di kawasan Asia Timur. Namun bukan berarti tidak diperlukan kesepakatan dan tindakan bersama dalam menghadapi krisis.