Monday, October 28, 2013

Panas

Pagi yang selalu terburu-buru. Setelah dua tahun berlalu saya menemukan bahwa saya bukanlah manusia pagi lagi. 

Tidak sempat mencari nikmatnya udara pagi yang selalu diidamkan ketika saya belum kembali ke sini. Jangankan bersemangat, ingin saja tidak, untuk bangun dan bekerja. Karena pada dasarnya saya suka sekali suasana pagi. Tapi tidak dengan suasana biasa. Dingin dan sambil lalu.

Saya benci rutinitas. Oh, bukan rutinitasnya. 

Mereka dan apa-apa yang membuatnya rutin. 

Ini buruk sekali untuk proses pembelajaran. Masa anak muda mau dibentuk dengan monoton. Seperti ceret yang cuma dipakai merebus air. 

Awet. Tapi hanya begitu saja. Dipanaskan untuk ditunggu dingin kembali. Dicuci. Diisi air mentah. Lalu dipanaskan lagi. 

Uh. 

Saya menolak hidup demikian. 

Saya emoh dipanaskan saja. Saya ingin membara. 

Monday, May 13, 2013

Let's Talk 'Bout Basics


Kalau urusan mikir pagi siang sore malem sampai pagi lagi, tentang uang dan makanan, you boleh adu kuat sama saya. Tapi saya pastikan kalau saya tidak hanya memikirkan untuk diri sendiri. Kadang saya menerawang apa yang sebenarnya terjadi, apa makna di balik jalan susah payahnya saya berjuang hidup, sehingga saya sangat peduli dengan hal itu.



Menjadi anak kos selama lebih dari 6 tahun tidak lantas membuat saya pintar mengatur kedua hal itu. Dengan berbagai cobaan yang dihadapi, dana dan makanan seakan tidak pernah aman bagi saya.

Padahal, saya juga sangat waspada akan semua pengeluaran, soalnya bapak saya pernah bilang, kalau untuk sekolah dan makan, harusnya dananya nggak terbatas. Saya juga nggak gengsian, kalo harus berhemat di tengah teman-teman yang lagi kebanjiran duit ya santai, kalo lagi ingin beli baju atau buku ya beli aja. Lebih-lebih lagi, saya masih ada sisa uang. Untungnya saya nggak suka ngemil. Tulis majalah keuangan populer, salah satu sumber pengeluaran wanita terbesar itu ada di.... 


...cemilan.


Ah sepertinya saya terlalu banyak baca Forb*s Asia dan Bl**mberg Businesweek (baca : gegayaan beli majalah bekas berboso Enggres yang sudah lewat 3 bulan lebih). Soalnya saya hafal banget frasa ini, dan rasanya sudah jadi ayat suci : "Menabung itu suatu kebodohan, dan berinvestasi itu baru tindakan cerdas." Seingat saya itu kata-kata konsultan yang pernah ditayangkan majalah di atas, deh.

My God, i can't stand being stupid, walaupun emang selama ini bodohnya banyak juga. Sering kali banyak merasa hari-hari saya dan keuangan saya kurang efektif dan saya seorang pemboros. Bagi saya pemboros itu dosa banget, dan saya takut jadi cewek pemboros. Lagi pula, setiap bulan pasti ada plafon pengeluaran yang harus dipatuhi. Dengan usia yang produktif, prinsip saya juga adalah mengurangi dependensi sama orang tua.

Frasa di atas sudah saya anut entah mulai kapan. Saya selalu merasa ada penyesalan setiap kali membeli sesuatu, meskipun itu memang perlu. Urusan makan pun demikian, saya nggak mau bilang kalau saya tidak sedang diet, tapi sekarang lagi membatasi banyak makan di malam hari. Secara tidak sadar saya juga berhitung di setiap kali transaksi makanan, karena untuk makan kan sifatnya fixed cost, punya uang atau enggak, kebutuhan makanan harus tetap dipasok.

Menghadapi kelangkaan bahan pangan bukan hal baru bagi saya juga. Dan kalau diperhatikan, setiap tahun belakangan ini krisis pangan dan impor-imporan makin sering terjadi, baik bumbu dapur sampai gula dan garam. Yang disebut terakhir itu sungguh konyol, lihat berapa panjangnya garis pantai Indonesia yang bisa buat bikin garem.

Dari berbagai even yang terjadi seputar uang dan pangan, saya ingin sekali bisa jadi seorang yang mampu menjelaskan keruwetan di dalamnya, utamanya bagi saya. Krisis keuangan dan pangan itu sangat menyeramkan bagi saya dan akan memicu banyak hal yang lebih membuat bergidik. Perlahan keprihatinan saya pun berubah menjadi kepedulian.


Dengan kegelisahan ini, saya menjadi paham kalau rakyat kecil seperti saya ini harus ikut berjuang, karena ini masalah bersama. Privilege saya sebagai seorang akademia lulusan perguruan tinggi juga harusnya diiringi dengan kewajiban "ikut urun mikir" buat kemajuan orang banyak. Hingga sampai nanti saya tidak mikir lagi, mau keluar uang berapa untuk ini-itu, saya mau total membantu, bukan hanya sekedar berwacana untuk kesejahteraan.

Semoga ada jalan bagi kaum yang katanya "kelas menengah" seperti saya ini yang masih bergulat dengan hal-hal dasar untuk bertahan. Saat ini saya sedang belajar meneliti tentang politik keuangan dan politik-ekonomi pertanian, di balik tembok kampus. Meski dananya tidak selancar semangat tim peneliti, semoga setelah waktu diseminasi tiba saya bisa menuliskan sesuatu yang lebih penting di sini dan di tempat lain.



Berharap kecemasan kita semua cepat berhenti.

Friday, April 26, 2013

I Might Be Alone, but I'm not Lonely



Saya sempat melihat-lihat situs internet amatiran buatan seorang bule tentang tips dan trik berwisata ke Indonesia. Entah apa nama web nya, saya sudah lupa, dan memang malas mengingat ingat. Terlepas dari tampilan situsnya yang rada agak-agak diluar kaidah kerapian gitu. 

Ada salah satu kolom tentang bagaimana cara bertingkah laku dan menjawab pertanyaan orang Indonesia, yang mungkin bagi mereka nyeleneh. Tips yang didaftarkan di urutan pertama ternyata bukan bagaimana cara basa-basi dengan penduduk lokal, dan cukup menggelitik saya.

"Aloneness".

Yup, topik tentang kesendirian kita dalam menjelajah. 

Maksudnya begini, kan bule memang kadang-kadang berangkat jalan-jalan secara solo trip, atau kalau bareng pun, ada kalanya mereka pergi sendiri ke tempat yang diminati. Nah, pertanyaan yang sering dilontarkan orang lokal ketika si bule beli rokok di warung atau sekedar lihat-lihat di art shop, ialah, 

"Kok sendirian?" 

yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris

 "Why are you by yourself?"

Rupanya si bule ini agak terganggu dengan pertanyaan seperti itu selama ia jalan-jalan di Indonesia. Ia menyarankan agar tersenyum saja kalau ditanya, atau bilang langsung kalau memang suka sendirian, karena nanti kalau dijawab pasti muncul pertanyaan susulan yang lebih annoying.

Entah, mungkin sang turis tidak suka bersosialisasi, secara tidak semua bule seperti itu. 

Saya tidak tahu di Indonesia dia ke mana saja, tapi yang menarik bagi saya itu bahwa kemana-mana sendirian itu masih tidak umum di Indonesia. Paling tidak di lingkungan saya hidup. Apalagi perempuan dan kalau sudah kelewat malam. 

Lepas dari masalah aman atau tidak, "aloneness" ini suka bikin tidak nyaman, karena orang lain rasanya memandang aneh. Saya sendiri suka pergi belanja sendiri, beli ini-itu, bukan karena tidak punya teman atau anti sosial, tidak. Rasanya lebih nyaman saja kalau tidak ada yang menunggu dan mengajak pulang duluan, tidak perlu banyak menyesuaikan diri dan benar-benar menikmati waktu. 

Kalau harus makan sendiri di tempat makan atau kantin, orang suka malas karena rasanya makan sendiri di tempat rame itu aneh. Saya juga kadang-kadang begitu. Tapi kalau di daerah di mana lebih sedikit orang yang mengenal saya, ya tidak begitu masalah, selama saya masih disibukkan dengan hape, buku, atau laptop. Pokoknya selama tidak mati gaya aja okelah.

Yang belum pernah itu nonton bioskop sendiri. Beberapa teman kuliah cewek dulu pernah cerita nonton bioskop sendirian, nonton film apa gitu yang agak gore, dan dasar anaknya pecinta film begituan, dia santai-santai aja. Tapi kayaknya saya tak bakal bisa nonton sendirian di bioskop, garing banget, bleh.

Beberapa orang pergi sendiri karena butuh banyak privasi. Salah satunya saya, yang kadang sengaja matikan telepon biar tidak diganggu, berkata kasar kepada mas-mas waitress supermarket yang sok godain saya, dan semua yang saya damprat karena mengganggu "aloneness" saya termasuk bapak saya.

Semakin dewasa, saya makin membuat jarak dengan banyak orang. Mungkin sifat saya seperti si bule pembuat situs tadi yang cukup menikmati aloneness nya tanpa alasan, laiknya penjelajah yang sedang ingin melepas penat dari terlalu banyak kontak dengan orang lain. Apalagi yang menyebalkan dan sok akrab. Yang lebih parah, ketika kita lagi capek, pengen santai sendirian, terus tiba-tiba ada yang nyerocos curhat. Konslet sudah otak saya.

Tapi orang tua saya sering kali langsung gelagapan ketika tahu saya pergi sendiri, meskipun itu hanya ke minimarket dekat kos, terus disuruh cepat-cepat pulang supaya aman. Meh, capek sekali kalau harus menjelaskan, bahwa saya bukan orang yang harus nunggu teman dulu baru berangkat ke sana-sini. Rasanya kemayu banget kalau kemana-mana harus sama dayang dan pengawal yak.

Dengan keadaan "single" sementara (ehem) ini saya ingin lebih santai, tidak ngurusi orang lain, dan ada waktu menenangkan diri.

Saya hanya ingin ajak kalian untuk biarkan kami sendiri, leave us alone at the time we are not seeking any attention at all. Bukannya introvert atau autis, tapi semua orang pasti butuh waktu sendirian, kan?

Friday, March 15, 2013

Suatu Pengalaman dengan Boyband (Indonesia)


Pernah dalam suatu hari saya naik kereta Gajayana relasi Malang-Jakarta sendirian, kira-kira pada masa saya sedang kuliah untuk gelar saya yang terakhir saya sabet ini.

Dalam kereta eksekutif ini, saya duduk, yang kebetulan menghadap layar Tv kereta meski ada beberapa saf penumpang lain di depan. Muncullah beberapa sosok pemuda yang sangat well-groomed, menari dan meliuk dengan kompak bersamaan. Saat saya tahu bahwa kelompok cowok ini ialah boyband bertitel XO-*IX, dengan sangat tidak harmonis membawakan ulang lagu Dewa yang judulnya Cinta 'kan Membawamu, saya jadi semakin tidak bisa tidur, padahal jam sudah lewat pukul 21.00.

Apa pasal?

Dengan gaya tipikal boyband a la Korea yang demen berpakaian kinky, overdone make-up, dan agak maksa sedikit cengkok bernyanyinya, mata saya juga seperti sedang nonton sesuatu yang lebih aneh dari lawakan garing OVJ. Seingat saya, "seragam" mereka dalam video klip tersebut ialah paduan hitam-berkilau dan nuansa keperakan. Lalu tatanan rambut jabrik dan ada juga yang sepintas a-la Rihanna, serta gaya koreografinya yang sepertinya punya maksud menggabungkan nuansa seksi dengan misterius. Tapi entah ya.

Namun bukan penampilan mereka yang membuat saya agak mabuk darat, meski saya sebelumnya sudah kebal sekali naik kendaraan yang goyangannya agak mahadahsyat.

Tapi simply karena mereka tidak bisa membawakan keagungan dan rasa dari lagu itu. Dari segi musikalitas, banyak sekali detil ketukan perkusi yang tidak perlu, serta sepintas sahut-menyahut lirik antar personelnya membuat lagu bagus ini menjadi turun derajat.

Padahal dengan kesederhanaan komposisi Dewa, lagu ini bisa terdengar syahdu.

nah cerita utamanya ada di sini.

Saya lalu mengirimkan post ke twitter yang mengkritik ketidaksukaan saya pada grup ini. Dan secara mengejutkan, muncul retweet dari seorang fansnya yang dengan sengit mendiskreditkan komentar saya. Oh ya, fans ini juga sepertinya masih SMA. saya membalasnya dengan menulis bahwa itu penilaian saya, terserah jika ada pendapat yang lain.

Ia tetap tak terima, dan mengatakan bahwa lagu yang mereka bawakan bagus, terbukti dari keberhasilan pemuda-pemuda klimis tersebut menancapkan lagu itu pada top-chart salah satu stasiun radio di Solo.

Entah stasiun radio apa yang ia dengar.

Lalu, ia dengan menakjubkannya meretweet saya kepada akun salah satu personel boyband nya, dan setelah saya tengok lagi timeline nya dalam beberapa hari, tak ada tanggapan dari idolanya itu dan ia pun "mengadukan" tentang saya pada teman-temannya yang lain. Mungkin sesama fans.

Oh, what a teen.

Saya generasi 90-an, dan saya juga suka beberapa boyband barat dan Asia. Ya, tetapi nggak segitunya bela-belain menjadi penggemar yang labil, yang kelihatannya harga dirinya ikut tercabik ketika idolanya dikritik. Kalau kalian (yang memang sudah dewasa lho, ya) lihat sendiri twit jaman kapan itu, pasti ngakak sendiri. 

Untung saya cepat sadar tidak untuk meladeni balasannya yang makin tak rasional dan akhirnya mem-blok akunnya. Ah, remaja jaman sekarang.Seleranya perlu dibetulin mengikuti standar kualitas konten dan musikalitas.

Bagus lagi kalau ada misinya. Ada pesan penyadaran.

Tampaknya industri musik tak butuh hal-hal begitu. One-hit maker sudah terlalu menjamur di pasaran, dan trik aji-mumpung juga menjadi sarana selebritis yang tidak bisa nyanyi untuk menaikkan popularitas. Nampaknya barat juga lagi kehilangan inspirasi. Banyak lagu bertema hura-hura, seks, dan percintaan yang dangkal menghiasi berbagai sajian hiburan on-air maupun off-air.

Saya sendiri, nggak butuh barang tak berbobot apalagi tak bermakna. Tidak selalu berat, banyak musik easy listening berlirik dalam, menggugah, dan lebih "bercerita" seperti Endah N Rhesa, Zee Avi, atau coba saja ziarahi kembali beberapa lagu Michael Jackson.

Oh ya, bagi saya musik bagus itu, paling tidak, memanjakan pendengaran, otak, dan menimbulkan pelepasan dan kepuasan.
Yang saya ingat dari perjalanan selama kurang lebih 15 jam itu, ialah kuping saya capek mendengarkan beberapa lagu dan iklan yang terus diulang-ulang dari sore sampai pagi.

Betul-betul malam yang panjang, jika harus diiringi suasana begitu.


Saturday, January 19, 2013

Fakir Sinyal

sepertinya hape itu harus dilempar ke muka provider. alasannya memiliki nilai legitimasi kuat.

bagaimana tidak.

eh sayang. masih garansi apalagi.
seorang bocah, yang sudah mau habis masa remajanya, punya dua hape yang punya nomor penyedia layanan, yakni si biru dan si merah. kau-tahu-apa-saja-mereka itu. dan kedua-duanya mengalami masalah jaringan di kala hujan.

hujan yang seharusnya memiliki muatan romantis malah berkhianat dengan menghadang sinyal hape, satu-satunya alasan untuk tetap terhubung.

tak elok mengutuki hujan karena ia takdir tuhan.

indonesia sudah merdeka. namun ia tetap dirantai batasan untuk sekedar bercakap denganku disini.

angkatan '45 pun hanya punya radio transistor, namun cukup buat Bung Tomo mengobarkan semangat arek-arek suroboyo untuk menyerbu hotel Yamato.

kembali pada saat ini. ia tinggal di desa,  kebanyakan warga sudah mampu membeli hape, membeli pulsa. namun tidak untuk membeli sinyalnya.

pengemis tunawisma di jembatan halte busway masih dapat mengais receh,paling tidak untuk beli nasi sayur bungkus.

lha, bagaimana dengan dia, bocah kampung yang hendak mengucap sekedar selamat tidur buat wanitanya di kota?

ke mana harus mengemis sinyal?

Tuesday, November 27, 2012

Menjadi Sadar

Saya tak pernah benar menyimpan ekspektasi, hingga beberapa lompatan waktu terakhir. 

Saya sudah agak lupa bagaimana caranya bersenang-senang secara maksimal, lupa bagaimana menjerit ketika sedang nonton film seram, lupa bagaimana harus memberi mahasiswa waktu berpikir ketika saya bertanya, lupa juga bagaimana jalan dengan santai saja. 

Semua karena target yang menumpuk. lalu target tersebut membuat kita tak menikmati diri sendiri apa adanya. Bisakah kita lalu berhenti berharap yang terbaik ?

Ini pertama kalinya saya ingin menjadi seseorang. Seorang yang notable, baik, memiliki jiwa yang kuat, sadar akan kosmos, serta memiliki jalur hidup. Benar saja, sekarang saya telah menemukan dunia di mana saya agak kuatir jika dipisahkan darinya. Saya ingin begini saja, tidak mengganggu siapapun, namun bisa menjadi diri sendiri.

Soal karir, sungguh saya ingin menjadi seorang yang kontributif, bukan hanya pintar untuk kepuasan dirinya saja. Makin sulit bagi saya untuk membaur di tempat baru, jangankan tempat baru, berbicara pada orang yang baru dikenal pun jadi agak kikuk, tak seperti ketika dulu menjadi seorang mahasiswa baru. Menyerap tambahan ilmu rupanya membuat saya jadi orang yang terlalu hati-hati sehingga tidak lepas lagi dalam bergaul. Oh ya, saya juga sudah buat resolusi untuk baca jurnal, satu judul dua hari. Biar tidak terlalu revolusioner dan kelihatan sok.

Tapi sungguh saya ingin menjadi orang yang bisa mengembangkan sebuah ilmu. Apapun yang berjalan saat ini, kepedulian saya terasa terpanggil dengan sendirinya. Makin sering saya berfikir terlalu dalam tentang sesuatu. Mungkin saya harus jadi filsuf?

Filsuf, cocok untuk membahas perkara asmara. Ah, saya tak pernah mengalami yang namanya putus sambung, dibohongi pacar, apalagi diselingkuhi. Saya benar-benar sadar pentingnya memahami esensi hubungan antar manusia ketika saya sungguh jatuh cinta seperti sekarang. Membuat kita selalu ingin mencari kekasih, dan ketika telah bersamanya ia akan kita jadikan kebanggaan.

Sungguh brilian hidup ini mendorong kita untuk selalu mencari. Tidak ada seorang makhluk hidup pun yang tak melakukan pencarian. 

Entah kata siapa, bahwa manusia ialah makhluk yang mencari makna. Ada bahasa latinnya, kok. Sehingga muncullah ilmu semiotika itu dan saudara-saudaranya.

Saya ingin sekali mencari makna. Bersama semua jurnal ini, bersamanya, dan bersama kalian juga. Saya hanya ingin bisa memercayai diri sendiri dan yakin akan kekuatan hati dan jiwa ini. 

Saya menyimpan ekspektasi, sekali lagi, atas semua ini. Saya merasa diri ini tersadar dari lena.



Tuesday, September 25, 2012

Piece of Absurdity


Selamat datang absurditas.

Itulah sepenggal deskripsi mengenai keseharian saya belakangan ini. Tak ada liburan yang memuaskan, juga tak ada kesempatan untuk rehat. Ada beberapa tugas dan target-target pribadi yang terselubung dalam aktivitas kerja, ehem, semoga tidak mengontaminasi spirit kerja itu sendiri.

Payah.

Berkecimpung lebih dalam di dunia akademik tak lantas membuat saya makin cerdik cendekia memandang suatu dilema, malah semakin emosional. Ditambah lagi, umur yang seperempat abad ini memang terasa tawar karena kurangnya rasa tenang dan ikhlas. Namun semua ini tertolong dengan rekan-rekan yang selalu mendukung dan kadang suka melempar joke sembarangan tanpa lihat-lihat perasaan.

Saya ini ada sifat melankolisnya sedikit, ternyata ya. Suka memantau perasaan sekali-kali.

Disiplin itu cara utama menghargai diri sendiri. Dalam hemat saya, disiplin malah kadang membikin kesepian, tidak menikmati hidup. Ada kalanya ketar-ketir menjalani hidup yang terus berceceran dan kurang inspirasi, namun menjadi orang bebas sepertinya bisa melepas penat.

Ya, untuk apa menjadi sempurna, kalau terjebak dalam absurditas. Tapi saya suka sekali lho kalau lihat orang teratur, serba terorganisasi, karena itu sebuah seni tersendiri. Saya berharap bisa jadi seperti itu, dan saya sedang belajar ke arah situ.

Dengan bantuan kolega yang semuanya lebih senior dari saya di sebuah --atau dua buah universitas-- saya harap saya bisa lebih "menunduk" dan mengembangkan unggah ungguh alias etika saya dalam menelusuri dunia pendidikan. Alasan utamanya, saya harus mendidik diri dulu sebelum mengarahkan orang lain. Ya, saya juga sekarang bekerja sebagai pengajar, untungnya di bidang ilmu yang saya tekuni juga.

Ah, satu lagi. Uang. Masalah kita semua. Dan itu salah satu alasan saya hijrah ke ibukota dan lebih mementingkan menemukan pekerjaan dibanding mendidik diri. Keinginan untuk mandiri mengalahkan keinginan untuk terjun ke dunia intelektualita, menggerus semangat pengabdian. Tapi, saya masih tak tahu caranya. Kalah dengan buramnya otak saya.

Namun itulah kita semua.

Karena saya absurd, nggak jelas, makanya harus banyak ikut mereka-mereka ini. Biar saya ngaku saja di sini kalau saya malu-maluin, suka bosan, dan harus banyak baca dan mendengarkan orang bicara. Tidak perlu buat resolusi, karena pasti saya langgar. Saran untuk kalian yang ingin belajar, cari figur yang tepat untuk dicontoh, dan belajarlah dengan dituntun. Jangan pernah sombong dan tidak adaptif, nanti sifat itu membunuh logika kalian sendiri.

Jangan lupa temukan tujuan hidup kalian. Dan kasih tahu saya kalau sudah ketemu. Mungkin itu jalan saya juga.

Mungkin blog ini akan dihiasi cerita gajebo yang lain.

Sunday, August 05, 2012

Di Tengah Kebosanan Suguhan Film Superhero

Kesalahan menonton film adalah ketika anda terlalu banyak nonton film superhero dari Nagari Amriki dan fairytale a la barat.

Entah film itu seperti The Avengers atau The Dark Knight Rises yang berhasil mengantongi banyak duit, atau film Spiderman yang masih abege dan ababil masalah cewek. Saya tidak begitu suka dengan produk Marvel dan DC Comics, yang mengupas seorang "hero" utama berlatar belakang mengenaskan, gelap, yang terkadang perlu dikasihani. 

Poinnya ialah, seorang yang mengenaskan dan ababil itu bisa menjadi superhero karena bakat terpendam yang dimilikinya. Di kesempatan lain, kekuatan amarah dan terkadang determinasi kekuatan hati bisa menjadi peletup kekuatan super si pahlawan. Saya tidak melawan konsep ini, hanya saja ketika karakter tokoh utama ini dipertahankan terus, penonton skeptis seperti saya bisa bosan. Tidak bisakah seorang yang mapan lalu memperlihatkan kepahlawanan yang spektakuler? Jawabannya tentu nilai kepahlawanannya akan tidak begitu punya wow effect. Bahkan bisa dibilang sudah sepantasnya. Karakter ini mungkin hanya sebagai peran pendukung si tokoh utama yang kesepian, berkepribadian ganda, dan banyak berjibaku dengan masalah dirinya sendiri.



Batformers
Dengan bumbu intrik dan misteri, cerita kepahlawanan ini terus berlanjut hingga beberapa sekuel. Apalagi jika menampilkan pemeran rupawan dan klimis macam hero-nya Superman Returns, si Brandon Routh. Yang membosankan ialah ketika ia berada dalam topeng, menanggung bebannya sendiri, dan ketika ia jaya, kemenangan adalah untuk nama besarnya sendiri, atau yang keroyokan seperti Avengers itu sendiri. Kelihatannya setelah menghabisi lawannya mereka nongkrong dulu beli kopi murah di semacam K-Mart sambil nunggu panggilan dari Zordon, atau markas besarnya.

Musuh atau lawan sang superhero juga seringkali merupakan pihak-pihak yang dikecewakan, yang selalu ditempatkan secara antagonistik dengan si hero. Mulai dari orang psikopat, ilmuwan edan, sampai monster yang kata orang Jawa njijiki. Cara untuk mengatasi masalah atau ketidakteraturan ya adalah dengan menghancurkannya, bukan dengan menyadarkannya atau memurnikannya atau ya, apalah namanya. Mungkin converting. Tapi kalau sadar akan kesalahannya, sering pas si lawan itu hampir mati.
Konsep zero-sum ini yang membuat film superhero monoton. Cara instan mengalahkan musuh ya justru mengeliminasinya. Atau sengaja dibuat begitu untuk memupuk dendam si penerus musuhnya, agar bisa dibuat sekuelnya. Sudut pandang menang-kalah ini yang saya tidak acungi jempol dalam film-film pahlawan bertopeng. Ya, kenapa pula dia harus bertopeng? Anda tahu jawabannya lah. Tidak ada banyak variasi ending yang tidak zero-sum. Lawannya pasti mati atau telak tersungkur, entah berapa lanjutan filmnya dibuat.

Jadi ingat pepatah Jawa : "menang tanpa ngasorake" atau menang tanpa mengalahkan. 

Kelihatannya cita rasa superhero Amriki ini bukan yang seperti itu, mengasihi lawannya. Siapa berbeda, maka dihabisi. Salah atau benar ialah melalui perspektif yang telah dibangun karakter protagonis yang latarbelakangnya mendayu-dayu dan perlu dikasihani itu. Alasan mereka fight back ialah menjadi penjaga perdamaian kontra ideologi superficial dan ekspansif (pokoknya intinya menguasai dunia, kalau nggak ya menghancurkan dunia). Dan sepertinya begitulah kepribadian Amriki itu sendiri. Penjaga perdamaian satu-satunya dan tidak bisa membikin musuh jadi kawan kita. Sekali musuh selamanya musuh.

Cerita yang agak berat bahkan lain lagi. Marc DiPaolo bahkan menggambarkan bahwa terdapat propaganda tersebut dalam cerita-cerita superhero di layar lebar. Pasca peristiwa 11 September, propaganda karakter ketangguhan Amriki dalam komik dan film superhero terus dibangun, bahkan alur ceritanya merupakan refleksi historis politik Amriki yang sedang berlangsung di tingkat nasional maupun percaturan global. 

DiPaolo dalam bukunya war, politics, and superhero, menjabarkan bahwa karakter Batman, Wonder Woman, Spiderman, Superman, the Fantastic Four dan the X-Men juga mencerminkan peperangan yang pernah dilalui, kebijakan pemerintah, serta tentunya produk-produk apparel yang bakalan ngetren segera sesudah premiere-nya diputar. 

Lagi-lagi melihat kondisi prikologis pasar dan penonton juga sih. Mana mau penduduk dunia dan Amriki yang dilanda krisis berat, disuruh menonton film tak menghibur? 

Tapi kalau disuruh memilih, saya bisa kok diajak nonton film begitu. Seru juga kalau script-nya bagus. Asal bukan pilihan pertama saja deh.

Sesungguhnya saya menanti ada film superhero yang tidak mainstream, semacam film superhero lain yang menjadi pembendung dari apa yang disiratkan oleh film-film pahlawan fantasi itu. Superhero kulit hitam, mungkin? Atau superhero ibu-ibu yang tidak seksi seperti Wonder Woman?


Ya maaf kalau saya belum tahu, ya.

Thursday, August 02, 2012

Jakarta and Holiday : Wrong Pair of Shoes?


It's a huge village of total intergalactic boredom. Also a home to parade of moaning drifters and homeless dudes. Flashy city malls, jammed intersections, sewage dirt on the street, shabby passers-by, midnight parking-lot-criminals, limitless queue lines. All you'd ever seen of a never-changing city, is just a piece of land you don't wish to live in. At least from the sight of a middle-class lady student over here.


It's been almost two years that I continue to pursue a postgraduate degree in political science in Jakarta. I met new people, new experiences, and brand new stuns and awe. As a postgrad student, I only have to attend for about 10 hours of a week in maximum. But that doesn't always mean that I've got a lot of spare time to rest my butt out.

I'd been in classroom bench too long, so that I decided to make some arrangements to enjoy life. I went to the nearby cities, I traveled the city roads and gutters, watching mentally half-paralyzed drivers while rushed along with my steps. I lived in bad tastes since I don't always know how to make fun of the situation.

When it comes to holiday season, it's an escape route for almost anyone, except the god damned-money-robber traffic police officers, to hang around the city. However, there aren't too much options. Jakarta, after all, is home to shopping squares. From Tanah Abang and Asemka Groceries to the amusing malls around Sudirman Business District or Senayan; we will certainly have the picture of  the biggest capital circulation in the country.

In short, getting through the holiday in Jakarta would mean shopping, if not just culinary adventure. Here we have The Jakarta fair (sort of huge festival bazaar), Jakarta Great Sale, or live music on the street and sometimes on Seven Eleven shops. Well at least on family getaway, you will at most would drive to north Jakarta's Ancol and Dufan, or end up in Ragunan zoo.

Personally, I am not a frequent money spender, while basically I don't feel like relieved in the midst of the crowd. Shopping is not my thingy. My fatigue suddenly taking me over if I look around shopping squares too much. I simply could not stand the noise. Live music, yes, but not of them who performed on the  pavement of convenient stores. In the midyear and school holidays like those days passed, it's getting boring. Especially when you don't have any friends to roam around, any sweet smelling cafes in Kemang will turn out very lonesome.

But sometimes things can be different if you are enlightened by some creativeness, nice mates to substitute the boredom. Jakarta can be fun, but at least for me, I definitely won't waste my holiday here. An adequately sane people would do the same too, if chances are on side. The point is, that the city is at its length, no matter what creativity involves in it, it's not original, immature and fake. There is nothing natural here, everything is artificial as an imagined metropolis. Another point is that reality can't take the expectation of wonder skyscrapers anymore. The environment sucks, the once-great-river Ciliwung is on its edge; then the town parks are almost no shelter of cool air anymore. The city is the most polluted capital in Southeast Asia, what is worse than that? Too much load and contradiction of landscapes that I cannot love, it even breaks my heart that needy folks on the kampongs and under-nourished guys recite their own entertainment of playing ukulele and monkey circus under flyovers and city bridges (that was my view when I took the Bajaj ride).

Great for doing business, but not for leisure. We should all admit that this is  a town of no joy, don't even push yourselves to enjoy. My advise is don't come near there when you have holiday, with all respects, I hope all parents take their children outta the city for awhile, just to experience nature. For youngsters and socialites as well, feel the showers of glamorous disco lamps as you like. But don't forget to balance this to meet the fantasy of clear blue skies, or just to strolling around the tea plantation before you go further climbing a mountain.

Jakarta is not for a perfect holiday. They are not a pair of shoes. When you try to walk on them, you'll likely feel uncomfortable in no time.

Saturday, November 26, 2011

Integrasi Ekonomi Asia Timur : Meraba Bentuk Dalam Temaram



Asia Timur merupakan kawasan yang sangat heterogen, baik dari sisi komposisi demografis, kemajuan pembangunan, maupun variasi sistem ekonomi domestik negara-negara di dalamnya. Hal tersebut sedikit banyak memengaruhi proses integrasi kawasan ini. Karakteristik pembangunan kawasan pun ditentukan oleh negara yang paling maju secara ekonomi sebagai episentrumnya, atau disebut flying geese. Selain itu, peran pemerintah yang sentral juga menandai economic governance di kawasan baik secara domestik maupun kerja sama regional.

Telah lama, integrasi ekonomi ditandai dengan kerja sama perdagangan bebas, namun koordinasi ekonomi menjadi tantangan bagi negara sedang berkembang dalam menghadapinya. Kebutuhan akan sumber daya manusia dan infrastruktur memadai, seringkali menjadi hambatan terbesar. Masalah yang relevan untuk diangkat dalam kondisi seperti ini bukan lagi bagaimana negara harus menyesuaikan diri terhadap regionalisme ekonomi, namun bagaimana suatu kawasan harus mampu membentuk pola kerja sama regional yang sesuai dengan karakter kawasan tersebut, bukan hanya imitasi dari sistem integrasi yang telah ada sebelumnya.

Permasalahan tersebut esensial, terutama dalam menghadapi struktur kerja sama ekonomi Asia Timur yang lebih banyak memiliki institusi maupun bentuk kerja sama yang dilaksanakan di Asia Timur. Banyaknya jumlah kerja sama ini tentunya menguntungkan posisi tawar negara sedang berkembang layaknya negara anggota ASEAN, namun juga menyisakan masalah institutional order. Di Asia Timur tidak dapat ditemukan adanya suprastruktur yang megimplementasikan aturan interaksi antar aktor, baik negara maupun non negara.



Hal tersebut dipertegas oleh Baer, et. al. (2002) yang mencontohkan evolusi Mercosur di Amerika Latin yang sangat kurang dalam kebijakan koordinasi. Koordinasi sangat penting sebagai tonggak institusi yang mapan. Hampir pasti faktor kepemimpinan sangat berperan dalam menjalankannya. Namun perebutan posisi “pemimpin” ini kadang menimbulkan ketegangan. Di Amerika Latin, Brazil dan Argentina menampilkan persaingan dagang yang terlalu ketat, serta mengalami divergensi yang terlampau besar dari segi makro-ekonomi.


Brazil sebagai salah satu kelompok BRIC cukup berperan signifikan dalam memainkan mata uang Real sehingga volume perdagangannya dengan anggota Mercosur lain dapat direkayasa. Di sisi lain, peran Brazil terlihat lebih mengutamakan stabilitas makro-ekonomi kawasan daripada integrasi kawasan. Hal serupa terjadi di Asia Timur, di mana China merupakan negara yang relatif dominan dalam makroekonomi hingga ke sektor riil dengan memainkan kurs Yuan. Namun di Mercosur, proteksi terhadap komoditi utama masih boleh diberlakukan, serta perdagangan dengan pihak luar-Mercosur masih terhambat karena persoalan kurs uang.

Membandingkan pola kerja sama ekonomi di kedua kawasan, dapat terlihat bahwa selalu terdapat aktor negara terpenting dalam mengarahkan integrasi kawasan. Political will sangat berperan dalam membentuk integrasi tersebut, dan hal ini kadang harus melalui proses tekanan politik yang kolektif. Asia timur yang lebih heterogen dari Amerika Latin harus mampu membendung China dengan upaya-upaya kolektif untuk tercapainya integrasi. ASEAN juga harus mampu meningkatkan perdagangan di antara mereka sebelum mulai berdagang dengan negara lain di kawasan Asia Timur. Namun bukan berarti tidak diperlukan kesepakatan dan tindakan bersama dalam menghadapi krisis.

Secara institusional, open regionalism menjadi suatu bentuk kerja sama ekonomi yang mungkin, jika tak hendak menafikan situasi heterogen sistem politik dan ekonomi di kawasan. Serta, sekaligus menghindari ketergantungan ekonomi berlebihan yang mungkin terjadi di masa depan

Tuesday, October 11, 2011

Maju Terus Pantang Mundur

Dengan mudahnya saya melakukan hal-hal bodoh semingguan ini. mungkin kepala saya sudah overloaded. Memang sebaiknya istirahat dulu, mumpung kuliah cuma dua kali saja minggu ini. tapi beruntungnya, teman-teman lama mengajak saya bercengkrama. Kantor kami, beruntungnya, hanya terpisah satu hingga dua blok saja. Namun kadang saya menikmati keletihan dan benar-benar ingin menghayatinya. Tapi sebaiknya hal-hal bodoh yang saya lakukan segera diperbaiki, meskipun tidak akan ada orang yang benar-benar sempurna. Pilihan yang baik adalah dengan terus maju, seberapa pun jauhnya, seberapapun banyaknya duri ranjau yang tertanam di jalan.




Friday, September 30, 2011

Too Exhausted to Relax

Damn, I am getting busier. I feel like I'm obsessed.

It's not that I hate it, it's just enthralling that I am developing, through the deathly streets and jerky roams in Jakarta. It's lucky to get past those whoever stood in my way, since everything starts to go smoothly in its path. I was plucked to join a gang of research monsters who'd do anything to post their best piece of mind to be admitted by uni's research dept. I also kicked myself through the gate of United Nations' Indonesia Country Representative to be a labor under the suppresion of neo-liberalism.

Consequently, it's rare to find myself relaxed, sleeping soundly. I had became a part of Jakartans now, who's always in a hurry and doubt.Then in this weekend I don't feel like going somewhere, and choose to linger on my bed. Crap, this is Korean Week, where my colleague Kim Ho Il passed me four cinema tickets, he said it's an event for Korean Film Festival in Jakarta. But still, my mind wanders everywhere and i couldn't even move my ass to hang around a party, holy cow. Yeah, but the cool breeze came around when my beloved guy was also coming to town. *grin

Hmm but that's the price to pay for saving my time until the next holiday. I wonder if I finished the proposal this semester, I will be able to go on a real vacation. I almost have no time, no blink for just enjoying the air of youth. I work like a horse until daybreak. But that's how I want it. I've been in a state where I got nothing to do and it was killing my sanity. Better live this way, it's simply productive. That's what youth is.

Saturday, August 06, 2011

Text Me When You Get Home

Kirimi saya pesan saat kamu sampai di rumah.

Belakangan ini orang tua saya begitu khawatir karena saya sering ngelencer alias bepergian selama beberapa hari terakhir ini. Saya juga teramat penasaran di mana kekasih saya berada ketika ia melakukan perjalanan bolak balik dari rumahnya ke tempat lain yang cukup jauh, apalagi sendirian saja. Persamaan dari dua keadaan di atas hanya satu : ingin supaya orang yang lagi dipedulikan itu segera sampai ke rumah, agar si pencemas dapat menghela nafas lega dan melemaskan otot lehernya yang tegang.

Ujung-ujungnya terkirimlah pesan pendek lewat telepon selular yang berisi makna yang sama dengan kalimat baris pertama di atas. Ya, di rumahlah kita bisa terlindung dari udara pancaroba biang penyakit, dari godaan mas-mas yang tidak pernah bosan menyiuli saya di jalan, jambret, copet kereta commuter line, dan tawuran rakyat tertindas gara-gara tidak dapat tempat jualan. Rumah, yang kata orang berisi keramahan dan kasih sayang, lebih tepat untuk disinggahi daripada mengembara tak kenal henti. Rumah saya sih, terletak di jalan yang cukup strategis, berada hanya sekitar satu kilometer dari pusat kota. Walaupun sederhana, rumah ini lumayan enak ditinggali, banyak makanan, serta saking nyamannya saya bisa tertidur di mana saja, termasuk di depan papan seterika. Asyik kan?

Tapi saya juga ingin singgah ke rumah-rumah yang lain. Ingin mencari tahu apa yang tetangga kerjakan, berapa kucing mereka, dan apa kamar mandinya berisi sabun serta pasta gigi yang juga saya pakai. Bukan untuk membandingkan, bukan untuk menyesali apa yang saya punya. Hasrat saya hanya ingin mengeksplorasi, menjelajah, dan yang terpenting BELAJAR. Bukan hanya rumah tetangga. Rumah ibadah, rumah sakit, rumah jompo, dan juga rumah pohon.

Bukan, bukan rumah buatan manusia yang saya maksud. Maksud lebih dalam dari ini adalah menyinggahi rumah di hati dan pikiran tiap orang. Sebuah konstruksi dunia yang mereka ciptakan dari proses memahami hidup mereka sehari-hari. The home they expect to see. Saya rasa terkadang saya terlalu ingin tahu ketika saya menemukan hidup orang lebih fantastik dari yang saya jalankan. Apa yang mereka lakukan sehingga dengan kerennya mereka bisa mencapai hal yang cukup dramatis? Lalu saya berkontemplasi dan mulai juga meragu, apakah ketika saya lakukan hal yang sama dengan mereka, saya juga akan mendapatkan hasil yang diimpikan. Realita memang mahal, sedangkan mimpi itu murah.

Adrenalin masa muda saya, yang nampaknya bertanggung jawab saat saya memutuskan menjelajahi "rumah-rumah" yang lain, sambil dengan curiga melongok ke setiap detilnya. Ada yang terletak di puncak bukit, ada pula yang berdiri tak jauh di balik tanggul pemecah ombak di tepi pantai. Mendirikan rumah untuk menetap pasti memilih lokasi yang paling mantap bagi kita dan sesuai kemampuan kita, dan di dalamnya terdapat liku-liku ornamen keindahan yang menyamankan. Karena saya lumayan egosentris, saya mau rumah saya tidak bisa dimasuki sembarang orang. Lebih cocok lagi kalau pagarnya bisa menyetrum sendiri peminta sumbangan, maling, rampok, atau pengamen.

Rumahnya harus ditinggali dan didatangi hanya oleh mereka yang saya cintai. Yang mengerti bahwa saya butuh ramai dalam kerinduan dan doa, dan sepi dalam selamatan tak bermakna.

Saya hanya mencoba mengutarakan, tanpa mampu menelusuri jalan, bukit, dan pikiran manusia lain, sungguh sulit menemukan diri kita. Harus menjadi apa agar menjadi ada, serta dimana harus berumah.

Friday, July 22, 2011

Jum'at Bukan Hari Pustaka

Tengok kanan kiri, pengunjung perpustakaan terlihat agak sepi. Ya iyalah, rata-rata orang lebih suka melepas penat menjelang Jum'at malam dengan keluar mengayun kaki ke pusat perbelanjaan, taman, ataupun sekedar mencoba menu baru di kafe pojok kota. Beberapa dari kami warga kota teladan dan kutu buku masih mampu membolak balik halaman buku di perpustakaan kota, sambil pula berselancar di komputer dengan akses internet gratis.

Saya beberapa kali terakhir ini berkunjung kembali ke Perpustakaan Kota untuk mencari bacaan asyik. Walau bukan kota pendidikan besar seperti di Jogja, perpus di sini jaaauuuuhhh lebih lengkap dan cozy daripada punyanya orang Jogja. Cuma saya ke sana tidak pas hari Jum'at. Ya memang karena lebih enak jika akhir pekan diramaikan dengan kegaduhan dan bukan baca-baca. Hmm ini menurut kebanyakan orang ya. Saya juga bukan geek, bukan cewek anti-sosial. Tapi memang tersangkut di perpustakaan kala Jum'at sore terdengar seperti kesepian.

Kalau sekarang saya di Jakarta, mungkin sudah ada jadwal bercengkrama dengan keponakan saya yang baru berulang tahun ke 2, atau menerobos jalan bersama teman-teman sambil mengomentari kemacetan. Mungkin pula merencanakan bermain paintball dengan teman kuliah yang juga sedang suntuk, dan bertanya-tanya kapan rencana itu di-jadi-kan.

Dan ceritanya adalah, saya di sini mencari pelengkap untuk master piece saya yang saya selalu angankan akan selesai Mei tahun depan. Ingin sekali melakukan penelitian lapangan, namun nampaknya hal tersebut kurang relevan dengan target saya untuk sekedar menjaga agar kewarasan tetap di kepala. Namun saya juga berusaha agar usaha saya ini membuahkan sesuatu yang layak dibaca dan bukan hanya sekedar diselesaikan. Buku-buku yang saya cari adalah mengenai ekonomi makro, sambil kembali mencari-cari kesalahan para pengambil kebijakan yang terlalu maniak dengan angka-angka yang dihadirkannya.

Namun ah, sudahlah, toh perpustakaan tak pernah sepi juga, siapa tahu ini hanya sewaktu saya datang saja hari ini. Jika saya melihat sekeliling, saya dapat melihat ekspresi yang menggelitik. Dua orang laki-laki muda beradu bisik tentang suatu buku, mungkin sebagai pengganti perdebatan a la mimbar yang harusnya lantang. Seorang pembaca wanita berkerudung oranye terkikik membaca buku entah apa. Ada pula pemuda berkulit gelap yang mengantuk di depan tumpukan buku yang ia pilih dari rak. Pengelola perpustakaan berseragam batik pun terlihat sangat profesional dalam memperbaiki sambungan instalasi listrik ke AC yang nampaknya bermasalah.

Jika santai saja sambil membaca buku, saya pikir sudah merupakan wahana berjalan-jalan juga,karena kita menemukan dunia baru di dalam bacaan. Orang bilang namanya eksplorasi pikiran, soalnya bisa merangsang kita untuk berpikir, berfantasi, dan menjadi bijak. Jadi oke juga kan, ketika akhir pekan dihabiskan di perpustakaan?

Tuesday, July 12, 2011

The Boso Jowo Slang Continuum

Parental advisory : explicit content.

Suddenly today I missed my hometown in Malang, East Java, and started to be in awe why are its people are so thick-headed and they love to pitch on swear words (misuh) in Javanese language or “Boso Jowo”. Perhaps not everyone has the trait, but a large portion of us surely do. A high tension, right before your eyes while their eyes open wide , and with monstrous tone, they bluntly shout the words to you.

“Jancuk koen kirik..!!” You f**kin puppy…

“Pancen nggapleki koen cuk!!!” You certainly act like a b*tch…

“Nggatheli tenan iku lik….” It’s totally idiotic, dude…

“Makmu!!!” hmm it means that we are as bad as our mother… *sigh*

Those are the common phrases that are used in common youngsters’ conversation in Malang and also Surabaya, especially those who came from some under nourished ugly gangs who often roam around the street to get some entertainment, or just to be disobedient. Particularly, the elders, the drivers of mikrolet (some sort of public transportation) and the illegal parking helpers are the most common users of those lines. This was probably due to traffic tangles. Not to mention the students too. And none other than most of the Arema football hooligans who are most likely responsible for the massive use of those “curse” sentences. That was why my parents were being so cautious that they didn’t want me to have a bad mouth and turn out to have bad conduct. They always persuaded me to study hard so that I could be admitted into notable state schools, which they believed the environment is rather clean. To some extent, it’s true.

But not until my 17th birthday that I landed in Yogyakarta to become skilled at tricking people, I found that the Boso Jowo there was very different. Yes, although Yogyakarta is also a piece of the Java cake, the language tasted sweeter than Boso Jowo in East Java. The people’s gesture was very courteous, not like some of the ill-bred fellow of Malang who stares frankly at you when they think you got bad taste of fashion, or when they just dislike you. A low tune with appreciation often came from several guys like those of local street food vendors, who served you with hospitality. So far, I only found one word that most possibly the roughest swear word in Yogyakarta : BAJIGUR. It might be a deviation to hide the exact word aspired to be spoken that is BAJINGAN (criminal). I guess that Bajigur is also a sort of a beverage I think. Yogyakarta version :

“Bajigur, manuke ucul…” Dammit, my bird flees…

“Walah, aku telat iki, wasemik, bajigur…” Oh, I am late, darn..

“Wong kuwi bajigur tenan nilep dhuwitku..” That guy is so-going-to-hell to steal my money

“Bajigur, kopine kemanisen je..” Crap, the coffee is too sweet dude…

“Bajigur..”

I don’t understand exactly why there are differences between Boso Jowo Yogyakarta style and East Java Mode, although there are also some variety inside the latter province. I presume Yogyakarta people tend to keep low tuned even they are being freaked out. But that’s the essence of the culture, to be polite and act well mannerly. And another hypothese is that we, the East Javanese kids are the descendants of Ken Arok, was the King of Singosari who once justified all means to get crowned. He also told to be arrogant, rough, and chaotic. While in Yogyakarta, the kingdom of once established as Mataram still portrays the grace of living in the realm of the King as the resemblance of order.

And without realizing it, my Boso Jowo had become more into that of the mannerly one, and my friends in Malang keep boo-ing me about this. Thanks to four years and a month living in Yogyakarta.

Wednesday, June 08, 2011

Tengah Malam

Jadi malam ini saya tidak bisa tidur lagi, lalu saya menonton filem berpakem perang-perangan di netbook (menyedihkan ya) dan melanjutkan beberapa e-mail yang harus saya kirim segera. Kamar saya belum disapu dari kemarin, baju belum dicuci tapi oh, lihat saja besok semua ini bisa diatur lah. Kipas angin menyala, dengan setelan ukuran kekuatan angin di angka satu, dari skala tiga. Arah anginnya statis menghadap meja belajar, yang letaknya persis menghadap jendela kamar berteralis yang cukup lebar. Bukan dengan maksud mengeringkan buku yang ada di atasnya, ataupun mejanya, namun karena saya tidak begitu suka angin kipas yang langsung mengarah ke saya.

Saya juga baru nyemil mi instan berkuah, karena lapar. Saya makan di kamar, di atas meja belajar dengan gaya santun seperti presidennya bangsa Indonesia. Sesekali saya menengok dan mengintip ke luar rumah dari balik jendela, karena cukup tertarik dengan suara-suara yang tidak lazim. Atau mungkin terlalu sensitif, tertulis di buku-buku biologi bahwa indera manusia memang lebih "menyala" ketika terjaga di malam hari. Harapan saya sih semoga wilayah Paseban tetap aman siang malam dari segala mara bahaya dan penyakit.

Setidaknya besok harus lebih produktif dari hari ini. Bukan hanya makan dan jalan-jalan saja, namun juga memikirkan dan melakukan sesuatu untuk hidup saya yang lebih yahud kedepannya. Puncak malam ini akhirnya ditutup dengan alunan gitar klasik Jubing Kristianto yang memainkan lagu Billy Joel yang bertajuk She's Always A Woman sambil berharap besok tidak ada lagi hati wanita yang disakiti, biarpun disini wanita dituduh biang keladi derita. Semoga.

Friday, January 09, 2009

Holiday Tipping Point

The next trip of my holiday then was to Surabaya and Sidoarjo. I went to follow my parent’s suggestion to meet our relatives and greet them Christmas. So on December 27 we dashed through an alternative eastern Malang to reach Surabaya by car. We were in the course of an escape route from the traffic jam and enrolled Pandaan-Gempol road, it was little bit raining though. I saw so many changes in people’s daily lives on the street, there were so many drifter and homeless along the street bank of Gempol, district of Pasuruan; and the traditional market was getting hectic as there were not many goods could be sold. I heard from my friend who is native to the vicinity before, that the gasoline was running out and it caused low productivity therefore lowering the living standards of the people around there. Housewives were not used to single out the LPG stove for cooking, and losing gasoline was a terrifying event for them, as they were lacking of information of the LPG stove distribution by government as an energy conversion program, not to mention the instruction of the usage is less than expected. But I couldn’t say much as I was following the road.



The first arrival were to my relative’s house on Sidoarjo, where we just hung around for about 1 hour and enjoy fried shrimp that was very tasty, it was so garlicious and saltious that I couldn’t get stuffed easy. Then we crossed the thoroughfare of Surabaya main highway and I went on a nostalgic spree on the road, I wonder when the last time I squander my day there was. On our route northern way, there were zoo with the Surabaya statue in the front, the Mpu Tantular Museum, Tunjungan Plaza Supermall, JW Marriot Hotel, Cito Mall, Pelita Harapan University, and a block of an industrial complex. After the passage, what was amazing me out is a multifaceted road consisted of colonial-built architecture. It took us to the colonial era all the way until we reached Jembatan Merah, a red-painted bridge where there was a fierce bloody battle between Indonesian troops and the more sophisticated NICA (Netherlands) militia that later marks the icon of the region.


There were not much recreation spot inside Surabaya except those superficial hedonic mall which were too glamour and rough as they displayed hyperbolic lifestyle. And oh, we just stopped by on Jembatan Merah Plaza to had a window shopping on the garment and footwear groceries, it was not kind of mall stuffs but it was still fun though. I’d rather call it a trade center where we could find stuffs with reasonable price. Well yeah it was hot and humid there inside, but I tried to enjoy myself and had a walk throughout the groceries. I remembered it was a 5 stories edifice with the classification of garment and textile retails, footwear retails, and tailor kiosks. Not to forget the food centre on the basement.


Tired of taking a walk around, we looked for a place to fill on our hunger. My uncle recommend such a famous eating place called Depot Tambakjoyo Asri if I’m not flawed, it could fit around 70 customers, they provided Javanese cuisine, but the eating place was too full of Chinese ornament and atmosphere, as the owner was Chinese. The fabulous thing was it displayed retro ambiance so that we could felt the old colonialized Surabaya “Surabaya tempoh doeloe”. We enjoyed our food on a long table; there were lots of incredibly huge aged photographs and figures which pictured the former Chinatown market.


The journey continued on the Pura Agung Jagad Karana Hindu temple. It was situated close to the center of the town, and the temple design was so Bali-ish; it established up in a large area of the district. My family intended to have a slight worship there. My impression to the temple was it was so clean and seemed to be maintained regularly. It reflected by the regular shift of the keepers there and habitual activities of the Sunday school and religious services there.


The visit to the temple marked the end of our tour there, and on the way home we chose toll highway to reach Malang in a little while. We arrived then following the railway and decided to take a brief look at the location of mud-flooded county caused by the leakage of the Lapindo Corp.’s oil-drilling activities in Sidoarjo, East Java. The splash of the leakage produced a large amount of mud and so far had drowned 5 villages since May 27 2006; and presently still continues on. On the eastern side of the Surabaya-Malang passage railway, there was a long-built stumbling block all the way of the toll to block the mud flow. The block was kept by some workers and scrutinizers there, but none of them was the expert to handle the damage that may come.


Unexpectedly, the villagers who lost their homeland were picking the visitor charge if we would like to have eye on the spot. Me with my two accompanies went up the blockage construction while paid IDR 15.000 --for about one and a half US Dollar-- to the villagers as a donation. A light rain welcomed us to see the mud lake. In the spot of the smoky and humid burst, there was a forklift machine and I had no idea what the hell was the guy driving it was doing. On a sudden moment, some fellows who introduced themselves as the collapsed village member offered us some video CD for IDR 10.000 of a series of events of Lapindo oil-drilling outburst. I refused to purchase. It was such a tragic situation where they had to exploit their own ex-village to keep the source of revenue for living.


The situation had become static since the first outburst, and nobody of the victims escapes time to look for alternatives of living. There are still a lot of refugees and it caused social problems. On the other side, it wrecked down the intercity traffic, where a piece of highway road had to be fallen and destroyed due to the incident. For just about 30 minutes watching the situation, we left that disastrous area and couldn’t find any idea about how this might come into account. The scenery had change much so that I could not capture to a larger extent about what it was really happened.


So far then, I had fun all the time in my trip, I wonder what would be in those cities when I come back someday, let’s just hope Surabaya would not drown as well, I treasure lots of memories there.