Thursday, February 14, 2008

New Input From the Past

Wah, setelah beberapa waktu, aku mulai menyusun ulang catatan kuliahku yang tercecer untuk nanti kubaca lagi. Rencananya aku akan mulai memikirkan bagaimana untuk belajar menulis sebuah wacana tentang hubungan internasional [HI] yang lebih komprehensif. Untuk itu aku perlu referensi lebih banyak dan menambah porsi diskusi dengan orang-orang terkait untuk menambah wawasan. Senangnya, sekarang sudah banyak yang membantu daripada dulu.
Setelah mencari-cari dan mengelompokkan, akhirnya aku menemukan catatan beberapa waktu yang lalu di antara map-map berisi… hmm aku tak bisa bilang, unforgetable memories. Beruntung, catatan itu sangat penting, karena belum ada dosen HI di UGM yang memberi kuliah tentangnya. Yang spesial, itu kudapat waktu kuliah dengan Profesor Sakai Yumiko dari Chuo University [Chuo Daigaku] Jepang. Dalam ingatanku beliau terlihat awet muda, di saat yang sama aku berpikir bahwa jarang sekali ada wanita Jepang yang sekolah sampai jadi doktor. Mungkin sebaiknya aku bagi sedikit di blog ini untuk dapat dijadikan bahan diskusi lebih lanjut.

*****

Di Jepang khususnya Chuo University, Ilmu HI ditelaah untuk mengkaji dan mendalami perang dan perdamaian khususnya pada kedua masa Perang Dunia. Menurutnya terdapat beberapa isu penting yang beliau alamatkan untuk mengidentifikasi peristiwa yang dapat dijadikan acuan studi. Kejadian yang dimaksud terdapat pada Perang Dunia pertama [PD I] di mana isu senjata pemusnah massal mulai mencuat pasca terbongkarnya Manhattan Project. Isu tersebut disejajarkan dengan isu kemanusiaan di mana lebih banyak korban sipil bergelimpangan.
Kemudian rangkaian peristiwa penting lainnya juga beliau tuturkan, yaitu isu yang memanas di rentang waktu antara PD I dengan PD II, yaitu mengenai usulan dan pemikiran masyarakat idealis mengenai pengaplikasian hukum internasional untuk mencegah perang. Inilah yang menjadi titik tolak dibentuknya rezim internasional yang ditandai dengan munculnya embrio organisasi supra-nasional. Munculnya pemikiran para ahli seperti Hans J. Morgenthau dengan bukunya Politics Among Nations dan juga General Theories of International Politics telah membantu para pembuat keputusan untuk memetakan kekuatan politik dunia.
Sakai-sensei juga sedikit membahas mengenai perdamaian. Beliau menjelaskan bahawa studi tentang perdamaian secara aktif dipaparkan oleh Johann Galtung. Ia banyak memunculkan teori-teori mengenai perdamaian dan pendekatan dalam memahami banyak perspektif mengenai perdamaian. Selain itu Gene dan Sharp juga banyak melahirkan alternatif metode bina damai atau peace building secara non-kekerasan.
Perdamaian dapat dimaknai dengan dua cara menurut Galtung. Yang pertama ialah passive peace di mana perdamaian itu hanya sebatas ketiadaan perang atau kekerasan langsung. Sementara positive peace melihat bahwa perdamaian ialah juga ketiadaan kekerasan non-fisik atau kekerasan struktural yang tidak langsung.
Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba beliau beralih membahas mengenai teori hubungan internasional. Menurut yang dijelaskan, ada beberapa model dalam menganalisa politik dan hubungan antar negara. Sekali lagi, sepertinya aku belum pernah menemukan yang seperti ini di buku yang pernah kubaca. Oh ya, seingatku Sakai-sensei banyak menghabiskan waktu kuliah demi membahas model ini.

Yang pertama ialah Power Politics Model [PPM]
Dimunculkan oleh Thomas Hobbes dalam bukunya, Leviathan, chapter ke-13. Jika melihat ilustrasi di atas, kita dapat menyimpulkan jika negara-negara saling lepas dalam mengurusi politik intern mereka. Dalam pandangan ini, problema yang dihadapi oleh suatu negara hendaknya diselesaikan oleh negara itu sendiri. Hal tersebut didasari asumsi bahwa kedaaan politik internasional penuh dengan anarki, dan negara-negara cenderung untuk saling berebut kekuasaan. Makanya jika suatu negara sampai melibatkan pihak luar untuk problem solving dikhawatirkan akan terjadi intrusi politik yang merupakan awal dari serangan pada suatu negara tertentu. Benar-benar berasa realis.

Model kedua adalah Transnational Function Model [TFM]
Di mana hubungan antar negara digambarkan saling ketergantungan, karena kedudukan masing-masing bangsa ternyata tidak sekuat yang dibayangkan untuk dapat melakukan autarchy, dan ancaman agresivitas negara lain tidak dirasa sepenuhnya benar adanya. Dalam rangka memfasilitasi hubungan ketergantungan tersebut, maka negara bekerja sama dengan berbagi sebagian kedaulatannya demi meraih tujuan dan pemenuhan kebutuhan bersama. Model seperti ini pertama kali diwujudkan dalam pembentukan European Economic Society [EEC] yang merupakan cikal bakal Uni Eropa.

Terakhir mengenai Centre Periphery Model [CPM]
Kenyataan bahwa kesejahteraan tidak selau merata telah melahirkan kesenjangan di antara bangsa-bangsa. Oleh karena itu akan selalu ada sebuah pusat di mana power terkonsentrasi yang disebut center. Ada pula daerah di sekitar center tersebut yang berkarakteristik kurang berkembang dibanding center, namun tetap terpengaruh dan bergantung pada center. Area itu disebut periphery, sebagai akibat perluasan pengaruh dari center. Ketergantungan periphery terhadap center merupakan sebuah dominasi kekuatan, di mana tanpa center, periphery tidak akan berlangsung. Galtung menyebutnya sebagai dependency theory.

Dalam ketiga model tersebut, Sakai-sensei juga mengemukakan bahwa banyak aktor yang dapat terlibat dalam jalannya sistem. Bukan hanya negara, namun juga korporasi multinasional, lembaga swadaya masyarakat atau non-govermental organizations (NGOs), serta pula Perserikatan Bangsa-Bangsa dan bahkan aktor individual.

masih ada lagi... tp ntar yah... hehehe

Thursday, November 29, 2007

Mengenai Melancholy


Mungkin akan sulit bagiku untuk memulai menulis sesuatu yang bernuansa sedikit romansa dan filosofis. Mengapa? Karena mungkin... aku seorang yang lebih praktikal, lebih menyukai proses serta pekerjaan; dan agak menafikan apa yang melatarbelakangi mengapa sesuatu terjadi. Meski begitu, aku juga mendapat manfaat dari merenungi diri dan menelusuri apa yang terus membayanginya dengan mencari penjelasan sendiri. Itulah mengapa title blog ini adalah Eva no Logy no Melancholy. Melankoli menggambarkan diriku dengan sangat tepat.

Beberapa lama belakangan ini, suasana hatiku memang terasa sedikit aneh. Sepertinya ada yang hilang. Makanya menjadikan blog ini sebuah melancholy mungkin suatu pilihan untuk menggambarkan keganjilan yang kualami. Tidak mau terdiam membaca tulisan seorang alien, yang ternyata senior saya Mas Rum, maka aku berniat membuat sudut pandang lain mengenai hal-hal melankolis.
Dalam ilmu psikologi (betulkan ya jikalau salah) terdapat empat macam kepribadian dasar seseorang menurut Sigmund Freud, yaitu Sanguinis, Melankolis, Plegmatis, dan Koleris. Mungkin kalau anda tanya pada ibuku, beliau akan mampu menerangkannya dengan bahasa pemuda-pemudi Indonesia masa kini, terlebih gelar S.Psi telah disandangnya. Khususnya melankolis, dalam tinjauan ilmiahnya (memang) dilihat sebagai suatu keganjilan dan ketidakseimbangan hormonal yang menyebabkan seseorang mengalami guncangan mental. Bisa ringan bisa akut, tergantung gejala emosional yang ditimbulkannya. Hal tersebut muncul ketika seseorang mengalami depresi, takut, dan phobia yang berlebihan akan sesuatu. Hal tersebut telah diteliti sejak sebelum Masehi hingga masa Renaissance di mana semua hal dilukiskan dalam seni yang romantis dan menggugah kehalusan perasaan manusia. Mood atau suasana hati dapat tergambar ketika kita mengapresiasi sesuatu yang menyentuh hati, membuat kita ”ditekan” olehnya.

Misalkan kita mendengarkan sebuah lagu yang romantis, menonton pertunjukan yang menguras air mata, ataupun sekedar bertengkar dengan teman baik; dapat membuat pikiran rasional hilang, dan kita diambil alih oleh guncangan emosional. Banyak perilaku dan ritual, mendasarkan pada emosi akan pencapaian ketenangan perasaan. Sebut saja kaum Yahudi lama yang memuja hari Sabtu demi mendapat perlindungan batin. Kita dapat melihat bagaimana melancholy ada dalam budaya pop, saat aliran musik Emo mulai mendapat tempat di studio rekaman grup cadas. Tema yang diangkat dalam emo merupakan manifestasi sisi gelap manusia, bagaimana depresi dapat mengajak kita bunuh diri, bagaimana kita hancur karena dihantam bumerang kebaikan sendiri, dan terlebih lagi tema cinta yang diangkat juga bernuansa ”tidak bahagia”. Terlebih lagi para pengikut emo membumbui semua itu dengan musik berketukan tinggi frekuensi dan hingar bingar.


Namun lebih dari itu, aku merasa semua orang pasti mengalami ketakutan, depresi, bahkan di bawah sadar sekalipun. Melankoli yang ada di dalamnya merupakan potensi kehancuran bagi diri sendiri. Lalu kita menjadi objek kesedihan orang lain dan menjadi referensi ketidakpatutan. Di samping itu, melankolisme menjadi suatu jalan penemuan diri bagi yang menanggapinya positif. Guncangan mental ini, yang berupa kemarahan, dendam, ketakutan akan dosa dan kematian, psikosis, rasa malu, serta kebencian, sebenarnya memiliki obat yang mujarab yaitu disiplin pengendalian diri. Hal utama yang disyaratkan adalah percaya diri. Dengan memilikinya, berbagai metode dapat dilakukan untuk tidak terlarut dalam emosi. Contohnya memberdayakan pemikiran rasional, disiplin moral, berpantang dan berpuasa, seperti yang diikuti penganut Avicennan.


Jika dituangkan dalam seni, pasti melancholy akan sangat bermakna. Berbagi dengan orang lain juga dapat membuat kita mengerti bagaimana emosi harus dikendalikan. Sekali lagi, aku lebih suka memandangnya dari segi praktikal, meski sesungguhnya melankoli menjadi sesuatu yang kadang merusak, lesu, dan butuh pembebasan. Banyak sekali orang melankolis sangat menyukai hal yang berbau kebebasan, karena secara batin dan utamanya mental, mereka terkurung. Mungkin kita dapat menemukan pembebasan itu, dengan menemukan kekurangan yang sama dari orang lain yaitu penderitaan yang sama. Jika kita dapat berbagi dan merasa senang karenanya, kita akan menjadi seperti conjuctio Solis et Lunae (perkawinan mistis antara matahari dan bulan) yang dipopulerkan Carl Gustav Jung mengenai pendapatnya tentang cinta.

Tuesday, November 27, 2007

Hmm. Just A Thought

Lately, after I came back UGM I have gone ahead to contribute something towards my dark-but-fabulously-shimmering organization, EDS UGM, to become coach for the newbie class of 2007. Half-heartedly I was standing to handle it, but giving your number one priority list is still inadequate for their development, and yet to be easy for me. Not to mention that I plan to practice full-time studying this semester, something that I cannot afford though.

I’ve got three kids to handle in a team training. First thing that I told them was that debate is not a smooth way to go and secondly that they’d not there to learn any more English that of a pro debater could speak. Should they get problems with it; they have to solve it themselves. Other rules of EDS UGM were very clear to begin with, that we would do anything to accomplish achievements so that we could HAVE FUN of it.

Sadly, reviewing this term of training, me and my pair Febrian, found it was more than grumpy street to go. They were so damn lazy and got nothing called motivation and commitment. I’m not going to blame them, but that was the thing happened these times repeatedly. I’ve never seen one could be under-couraged like them. I just began to prepare assessment on matter wise while then they showed no spirit. They even not tried to be proactive, I know probably they got mess ahead on their days but we do have to sacrifice bunch of stuffs if we want to have something on ourselves. Moreover, everyone does busy.

I was so regretful that my shot to be a teacher was washed away. I don’t like people come late without reasonable excuses. I do not like my trainees even didn’t know any single thing called discipline. I’ve went trough a hell of it during my early training at my former entrance to EDS UGM. I hated myself for losing my ability to be strict and though to my kids. It’s a pity if I was taken over by anger, but Febrian did it. Sometimes it sounds though, but it’s necessary after all.

Founders Trophy 2007 and Indonesian Varsities English Debate 2008 are coming, but none of them are mine. I am getting too tired to build my cases and to look for more matters, but it’s just it. I do like debating like crazy and crushing my opponets without remorse. Probably next semester I would be able to increase my presence every Saturday, like I always did before.

Masih Bingung mencari Fokus

Fokus! Itu adalah kata yang sangat penting buatku sekarang ini, dan maunya semua orang bisa mingingatkanku buat tetap konsisten pada apa yang kukerjakan. Tak bisa dipungkiri, menjadi mahasiswa Hubungan Internasional (HI) di UGM saat ini memang terkesan agak santai dalam prosesnya, dan masih relatif dapat dipertahankan untuk diperjuangkan. Mungkin banyak pembelajar dari fakultas ataupun jurusan lain yang agak mengerutkan dahi dan alis ketika mendengar bentuk skripsi mahasiswa HI yang sekilas kelihatannya cuma sebuah studi pustaka atau review saja. Bahkan ditambah fakta bahwa hanya dengan minimal empat puluh lembar bagian pembahasan saja, seorang mahasiswa sudah dapat berdiri di depan dosen penguji skripsi.

Namun ternyata sangat mudah untuk membayangkan bahwa banyak sekali yang kebingungan akan mengangkat masalah seperti apa, seakan-akan dunia politik internasional masih adem-adem saja. Padahal sekarang ini konstelasi politik global sedang mengalami transisi yang demikian cepat hingga dengan tak sadar kita telah berubah pula karenanya. Fenomena globalisasi yang dibarengi gerakan resistensi telah memberi banyak isu untuk dibahas. Isu minyak di Amerika Latin, globalisasi Linux, bahkan fenomena blogging telah memberi jalan baru bagi para pencetus propaganda untuk menyebarluaskan opini.

Di lain sisi, sepertinya aku juga kebingungan. Hmm... mekanisme self-tailoring yang digagas oleh kurikulum HI UGM tahun 2000 juga kurang memberi panduan bagi mahasiswa untuk mengambil mata kuliah, di samping sifatnya yang memang membebaskan mahasiswa guna mengambil kuliah yang diminatinya saja. Sebagai gambaran, aku mengambil Minat Topik Ekonomi Internasional, serta Minat Kawasan Asia Timur (China, Jepang, dan Korea Selatan). Seperti kata Pak Yahya Muhaimin, mantan menteri pendidikan era Megawati sekaligus dosen HI, bisnis dan politik ternyata sangat berkaitan dalam dunia internasional. Maka akhirnya aku memutuskan untuk fokus di kedua minat tersebut. Tapi semuanya jadi agak aneh kalau tidak mengambil kuliah yang lain juga. Akhirnya beberapa mata kuliah Minat Pertahanan Kemanan Internasional juga kuambil, plus satu mata kuliah Amerika Serikat. Wah, lumayan juga menjalaninya, namun menggabungkan pengetahuan juga lumayan memeras otak. Terlebih tugas-tugas yang tak pernah berakhir selalu berganti tipe dan metode, semakin menambah semarak bintang-bintang yang berputar di sekitar kepala.

Sekali lagi aku ingin tetap fokus, konsentrasi di sentral belajar yang aku susun. Eh, malah banyak sekali hal lain di luar itu yang menarik perhatianku. Sebagai mahasiswa yang sangat berminat dengan segala kegiatan jurusan, aku dan teman-temanku juga banyak mendapatkan ilmu dari luar kelas. Sudah tak terhitung dari mana saja aku menemukan minat di luar fokus. Akhirnya, aku juga sudah mulai menemukan ide untuk skripsi nanti, dan untungnya aku masih tetap setia dengan Asia Timur. Aku memang suka sekali kebudayaan oriental, terlebih lagi gaya politiknya sangat akulturistik, beda dengan daerah lain di muka bumi ini. Mungkin, nanti aku nulis tentang strategi sekuritisasi ekonomi Jepang pasca renggangnya hubungan Japan Incorporated jamannya PM Satou Eisaku (duh, kenapa aku maniak sekali dengan Japan Incorporated ini ^.^), atau bisa juga pengaruh perkembangan reformasi chaebol terhadap naiknya Kim Dae Jung sebagai presiden. Yah pokoknya temanya itu dulu, judul pastinya nanti dipikirkan habis bertapa, hahahah... (nggak gue banget itu). Huh, jadi teringat betapa aku akan lulus dalam waktu yang agak lama, mengingat kuliahku santai sekali, tiap semester mengambil paling banyak 22 SKS. Memang hal itu tujuannya untuk bisa lebih fokus belajar serta mendongkrak nilai yang lebih optimal. Meskipun bisa dikata IPK-ku memenuhi syarat untuk mengisi 24 SKS penuh di KRS-ku.

Menilik dari hasil belajar sebelumnya, sepertinya lebih fokus menjadi suatu keharusan. Terlebih lagi ada keinginan untuk mencapai sesuatu, kesempatan terakhirku untuk mencapai hal “itu” lagi. Masih mau lagi. Kemenangan mutlak harus ditargetkan untuk maksimalisasi hasil, baik akademik maupun non-akademik. Tapi susah sekali memfokuskan diri itu. Meskipun sudah menetapkan diri dengan melaksanakan study oriented, masih ada saja yang menggangu pikiran di tempat lain... Hmmm hhehehehe... disiplin itu susah. Apalagi aku hidup ditengah orang-orang santai sehari-harinya. Huh.

Hitorikiri dakedo, boku wa chigatte naraba, kurayami de ano shin chikara wa boku ga tasukete yo.

Thursday, November 01, 2007

Don't Make Carbon Commodity

I have already taken the Seminar on The Environment class on the former 4th semester. To put it simple, too many lessons and discourses had fulfill my class and on another corner of my interest, they didn’t really catch the right purpose, which was to bring and to increase awareness on environmental issues as soon. There were two failed class projects and ignored individual projects or another thingy called the seminar itself. However, there are still some things to grab on. I feel that the theories were relevant with the recent tendency on international politics, which has been considered as low politics stuffs and brings you no harm if you let go off it.

Back then, the politics constantly changes and dynamically stands still as a mere movement. Eventually, ignoring environmental issues seems to humiliate the meaning of being a political actor, because they forget where they take advantage. States and political leaders are busy on handling the issues of hard politics and leaving the environment for granted. On the analysis of sustainable development, there should be a balance statue of the human factor, economic factor, and environment factor. When it’s going to get hotter, the politicians finally awake from the dream of wars.

Reconstructing the environment costs us lots of things. Establishing eco-friendly stuffs really tiring us and needs bunch of money to pay for. Moreover, awareness of most guys are low-asses. Because they are poor. Because they are industrialist bourgeoisie. And because they don’t care.
On the next summit of UNFCCC on Bali next December, 3-14, they are going to talk about carbon trading [once again and again]. As the meetings would not let the US guards off from industrial interests, it would be a hard negotiation as always. Carbon trade is an ignorance towards the Kyoto Protocol to limit your greenhouse gases emission. Plus, it allows you to spread carbon more than any states because you are more developed ones. For those who already understand, the US and the blocs are intended not to limit theirs, mainly because it will restrain their industrial activities. The US sees the smoke as a commodity, and it’s the thing that has to be changed on the paradigm. When you buy the right of the developing states to emit more smoke until it gets on the cap, it means that you are buying their right of them to produce more on the factory [which emit gases also, dumb]. In the end, the economic activities, especially the production, will easily being hampered by those carbon traders.

The leaders seemingly start to understand how important this deal is, and should be prepared for a rejection towards the carbon trades. Rather than keeping eye on a trade of smoke, I believe there should be an effort to reconstruct our nature first. It should be that way due to the basics of life. It would be a huge risk on the future of a climate change. The world now needs recovery so badly on reconstructing what’s broken from our surroundings. Unfortunately, the WTO and World Bank had spread claims and discourses that the plan of reducing carbon trade mechanism would find it edges if it doesn’t fit the world trade’s interest of free trade. How lame. Hello, smoke trade isn’t fair to be called such commodity!! It’s undoubtedly the same old song that WTO always meets the deadlocks of farming issues on their every summit, and finally it had come to Hong Kong and failed again. So why are we still defending their bloody wish up to this time? See, it has been coming to be a hard, tough politics to begin with.

They just don’t realize it sucks and would destroy the economy on the future. If we wanted to crumble US down, the carbon trades should be off from the surface of the trading activities, for the sake of themselves also. Not to mention that the global economy is now at its worst level. Adding the matter of carbon trade will not solve the problem of climate change. Let’s begin with saving the energy, and no regret to those who are stupid, because soon… soon they would follow after us.

Sunday, October 28, 2007

My Favourite Beat

Just the next season is about to come and I am alone in my room, got petrified with the cold breeze. However, I just want to share. Everyday listening to UVERworld cheers my mood up but lately I was caught up by my friends listening lots of Koda Kumi and Crystal Kay’s song. Moreover, my senior recommended me to tune more to Greeeen [ini bener lho ‘e’-nya ada 4] and I remembered just one of their songs, which is “Ai Uta” the theme of Final Fantasy.


Indeed, I am the big fan of Visual Kei and common J-rock, but listen them up almost everyday is just pacing up it all… so I have to slow it down. Honestly, I would rather lend my ear to female singers and girl bands nowadays. They are so cute, young, and fabulous. ^0^ Mixed up with fully furnished performance, their style really swings my everyday. Never got bored with their songs I guess. Not to mention Nakashima Mika –as I am listening now- is perfectly talented and was crowned “the female Hyde”. It was on Newsmaker Japan, that most expensive entertainment magazine I’ve ever known.


Another try is Takahashi Hitomi, Horie Yui, Tamaki Nami, Rie Fu and her “Tsukiakari”, Van Tomiko, Pipo Angels, Matsura Aya and her “Ki ga Tsukeba Anata”, Sakamoto Maaya, C-ute, ZYX, Zard, Utada Hikaru, Aki Angela with the remix of the Japanese “Kiss from A Rose”, Yuki from the former “Judy and Mary”, etc. Hmm I also prefer to choose rock band with a girl vocalist like High and Mighty Color [Haikara], The Brilliant Green [Buriguri], and Rythem [was filling one of Naruto’s theme “Harumonia”]. Feels like it’s enchanting to hear Japanese women’s voice. Cute as ever.


But one person I hate much is Hamasaki Ayumi. Yeah, sometimes it’s nice to play her songs but the rest … lagu2nya kayak orang dandan menor banget. Terlalu berlebihan. Ahhh omoidashita!!! Don’t forget to grab Kuraki Mai’songs… 5 star rated. First time I listen to her song was years ago and it was “Love, Day After Tommorow”. Seems all of her songs title are in English. It’s so yesterday but would still remains full of beat on your steps, I guarantee.


takahashi hitomi

Hands up for Japanese female GOOD musicians.

Memaknai Liberalisme dalam Politik Internasional



Di kelas, seumur hidupku belajar teori-teori, yang paling ”kena” adalah tentang pendekatan liberalis, meski tak bisa dinafikan bahwa teori realisme-lah yang paling laku di jagat perpolitikan internasional, soalnya paling relevan dalam praktiknya, baik oleh kalangan jurnalis maupun mereka yang ngendon di ranah pengajaran atau akademisi. Belum lagi banyaknya kebijakan luar negeri yang mengacu pada konsep ini, ya karena realis itu tadi, lebih melihat kenyataan bahwa negara-negara lapar mata akan kekuasaan dan membenci pemikiran munafik dan idealis akan utopia perdamaian.



Lalu, yang menjadi pembeda liberalisme dengan teori realisme adalah teori ini terasa lebih manusiawi, walaupun ada misi terselubung dalam maksud-maksud pasifis yang terdapat di dalamnya. Banyak orang menilai kebebasan yang ditawarkan dalam liberalisme adalah tidak bertanggung jawab dan absurd, padahal tidak demikian adanya. Sebaliknya jika melihat pendekatan lain seperti idealisme, realisme, dan –isme lain, kita akan melihat adanya perbedaan tingkatan manfaat dan besarnya political will yang berhasil didapatkan dari aktor internasional untuk membina keseimbangan.


Liberalisme berangkat dari kesejatian, di mana esensi hidup menjadi manusia sangat dihormati. Kebebasan, pembebasan, kemerdekaan, keadilan dan hak asasi menjadi pemersatu dalam konsensus yang selama ini dibikin orang. Dalam perkembangannya teori liberalisme lebih banyak menekankan pada hal lain selain perebutan pengaruh di bidang hard power, yaitu pengalihan perhatian orang pada teori ekonom-ekonom barat. Orang liberal tidak memusingkan bagaimana perdamaian akan tercapai atau bagaimana kesejahteraan akan mengganjar orang yang rajin, namun lebih menaruh fokus akan prosesnya. Bagi liberalis, konflik itu mendewasakan, dan orang jadi saling tergantung karenanya [baca:membentuk aliansi].


Kedua, liberalisme menganggap kedudukan aktor-aktor politik internasional adalah setara. Baik aktor negara maupun non-negara seperti non-govermental organizations atau [NGOs] dapat memiliki bargaining position yang sama besarnya dan sama berpengaruhnya. Lebih daripada itu, pengakuan akan kepentingan individu dan kelompok individu mendapat porsi yang besar, namun bukan berarti tak berbatas. Negara sebagai lembaga paling kompleks juga turut berperan dalam merumuskan berbagai kepentingan itu dan menjadikannya integral. Nah, untuk itu, individu akan berkumpul dan membentuk kelompok yang mampu menyampaikan aspirasinya, tak peduli mau gagal atau jadi booming karena yang penting adalah prosesnya. Yang penting juga adalah semua orang bisa ngomong dan tidak ada yang melarang. Dan itulah yang sangat kurang di negeri kita ini. Cuma yang tua aja yang bisa ceramah, yang tua harus didahulukan. Tanpa mengurangi rasa hormat, itu sangat feodal dan merusak keharmonisan, karena banyak hal potensial yang terpendam, yang bikin lambat maju. Kelompok minoritas ditekan dan diintimidasi. Kayaknya ada yang ketakutan tuh. Belum lagi politik identitas [yang masih tetap berdiri di Amerika sana] menambah kekuatan negara untuk bungkam dan angguk-angguk pada kepentingan masyarakat kebanyakan.


Agresifitas negara harusnya bisa ditekan dengan mengadopsi paham satu ini. Dengan menempatkan negara sebagai perumus kepentingan dan tempat sampah aspirasi, elite negara akan lupa dengan hasrat peperangan dan hopefully akan membentuk Pacific Union dengan lebih memperhatikan bagaimana ekonomi berjalan daripada beli granat dan pesawat, meski itu juga penting, sih.


Hipotesa utama dari tikus berkedok liberalis ini adalah :

  1. Ketergantungan ekonomi antarnegara yang lebih besar akan menurunkan kemungkinan resiko akan terjadinya perang. Maksudnya, negara akan lebih senang bekerja sama daripada perang soalnya lebih menguntungkan.

  2. Menerapkan demokrasi menjadikan kemungkinan untuk berperang menjadi lebih kecil dibandingkan dengan perebutan kekuasaan.


Tanda yang lain dari sistem yang liberal adalah terintegrasinya kepentingan dunia dalam organisasi internasional. Contoh yang paling ”jadi” adalah Uni Eropa, yang asalnya cuma bermain kerja sama di level pertambangan besi dan batu bara saja. Namun organisasi lain cenderung membiarkan dominasi tampil tanpa kontrol seperti WTO. Oh ya, liberalisme sering juga dihubungkan dengan kapitalisme dan diidentikkan dengan itu. Wah mungkin kapitalisme ini turunannya ya. Menurut Angell dan Schumpeter, kapitalisme adalah hasil dari evolusi ekonomi dunia yang akhirnya matang. Terus katanya lagi, kapitalisme juga menandai akan berakhirnya perang fisik. Kalau menurutku tidak juga. Seperti perang Irak dengan ironi war for oil-nya, ini bukti kapitalis tetap membuat peluru bersarang di kepala orang.


Konsep liberalisme menjadi kurang terang ketika ia dilihat hanya saat mati lampu, di mana orang malas dan apatis berhenti mengembangkan potensinya. Orang mempersalahkan kompetisi yang sangat ketat dalam liberalisme sebagai biang dari segala masalah penyakit sosial. Namun faktanya masyarakat dunia peduli soal ini, karena kemiskinan ternyata menular. Untuk itu digagaslah Millenium Development Goals [MDGs] yang agak macet belakangan ini. Tapi yang penting kan usaha, hehe...


Sebenarnya ada beberapa masalah yang tidak dijawab olek perspektif liberal ini. Mungkin tentang masalah tentang bagaimana perang tidak akan berakhir meski dengan kerja sama ekonomi yang masif. Perhitungan tentang proses penghentian atau minimalisasi perang masih tidak dibahas. Padahal penting untuk menunjukkan bagaimana kemajuan ekonomi sebagai fokus liberalisme akan membendung keinginan untuk berkonfrontasi dengan korelasi positifnya. Tapi satu pembelaan, bahwa liberalisme telah mampu menyadarkan orang tentang nilai kemanusiaan dan banyak menyatukan persepsi banyak gelintir para pembuat kebijakan.


Orang Jepang jaman Meiji dan Taishou bilang "fukoku kyouhei"... Negara yang kaya, militer yang kuat. Gabungan liberalisme dan realisme?