Sunday, August 05, 2012

Di Tengah Kebosanan Suguhan Film Superhero

Kesalahan menonton film adalah ketika anda terlalu banyak nonton film superhero dari Nagari Amriki dan fairytale a la barat.

Entah film itu seperti The Avengers atau The Dark Knight Rises yang berhasil mengantongi banyak duit, atau film Spiderman yang masih abege dan ababil masalah cewek. Saya tidak begitu suka dengan produk Marvel dan DC Comics, yang mengupas seorang "hero" utama berlatar belakang mengenaskan, gelap, yang terkadang perlu dikasihani. 

Poinnya ialah, seorang yang mengenaskan dan ababil itu bisa menjadi superhero karena bakat terpendam yang dimilikinya. Di kesempatan lain, kekuatan amarah dan terkadang determinasi kekuatan hati bisa menjadi peletup kekuatan super si pahlawan. Saya tidak melawan konsep ini, hanya saja ketika karakter tokoh utama ini dipertahankan terus, penonton skeptis seperti saya bisa bosan. Tidak bisakah seorang yang mapan lalu memperlihatkan kepahlawanan yang spektakuler? Jawabannya tentu nilai kepahlawanannya akan tidak begitu punya wow effect. Bahkan bisa dibilang sudah sepantasnya. Karakter ini mungkin hanya sebagai peran pendukung si tokoh utama yang kesepian, berkepribadian ganda, dan banyak berjibaku dengan masalah dirinya sendiri.



Batformers
Dengan bumbu intrik dan misteri, cerita kepahlawanan ini terus berlanjut hingga beberapa sekuel. Apalagi jika menampilkan pemeran rupawan dan klimis macam hero-nya Superman Returns, si Brandon Routh. Yang membosankan ialah ketika ia berada dalam topeng, menanggung bebannya sendiri, dan ketika ia jaya, kemenangan adalah untuk nama besarnya sendiri, atau yang keroyokan seperti Avengers itu sendiri. Kelihatannya setelah menghabisi lawannya mereka nongkrong dulu beli kopi murah di semacam K-Mart sambil nunggu panggilan dari Zordon, atau markas besarnya.

Musuh atau lawan sang superhero juga seringkali merupakan pihak-pihak yang dikecewakan, yang selalu ditempatkan secara antagonistik dengan si hero. Mulai dari orang psikopat, ilmuwan edan, sampai monster yang kata orang Jawa njijiki. Cara untuk mengatasi masalah atau ketidakteraturan ya adalah dengan menghancurkannya, bukan dengan menyadarkannya atau memurnikannya atau ya, apalah namanya. Mungkin converting. Tapi kalau sadar akan kesalahannya, sering pas si lawan itu hampir mati.
Konsep zero-sum ini yang membuat film superhero monoton. Cara instan mengalahkan musuh ya justru mengeliminasinya. Atau sengaja dibuat begitu untuk memupuk dendam si penerus musuhnya, agar bisa dibuat sekuelnya. Sudut pandang menang-kalah ini yang saya tidak acungi jempol dalam film-film pahlawan bertopeng. Ya, kenapa pula dia harus bertopeng? Anda tahu jawabannya lah. Tidak ada banyak variasi ending yang tidak zero-sum. Lawannya pasti mati atau telak tersungkur, entah berapa lanjutan filmnya dibuat.

Jadi ingat pepatah Jawa : "menang tanpa ngasorake" atau menang tanpa mengalahkan. 

Kelihatannya cita rasa superhero Amriki ini bukan yang seperti itu, mengasihi lawannya. Siapa berbeda, maka dihabisi. Salah atau benar ialah melalui perspektif yang telah dibangun karakter protagonis yang latarbelakangnya mendayu-dayu dan perlu dikasihani itu. Alasan mereka fight back ialah menjadi penjaga perdamaian kontra ideologi superficial dan ekspansif (pokoknya intinya menguasai dunia, kalau nggak ya menghancurkan dunia). Dan sepertinya begitulah kepribadian Amriki itu sendiri. Penjaga perdamaian satu-satunya dan tidak bisa membikin musuh jadi kawan kita. Sekali musuh selamanya musuh.

Cerita yang agak berat bahkan lain lagi. Marc DiPaolo bahkan menggambarkan bahwa terdapat propaganda tersebut dalam cerita-cerita superhero di layar lebar. Pasca peristiwa 11 September, propaganda karakter ketangguhan Amriki dalam komik dan film superhero terus dibangun, bahkan alur ceritanya merupakan refleksi historis politik Amriki yang sedang berlangsung di tingkat nasional maupun percaturan global. 

DiPaolo dalam bukunya war, politics, and superhero, menjabarkan bahwa karakter Batman, Wonder Woman, Spiderman, Superman, the Fantastic Four dan the X-Men juga mencerminkan peperangan yang pernah dilalui, kebijakan pemerintah, serta tentunya produk-produk apparel yang bakalan ngetren segera sesudah premiere-nya diputar. 

Lagi-lagi melihat kondisi prikologis pasar dan penonton juga sih. Mana mau penduduk dunia dan Amriki yang dilanda krisis berat, disuruh menonton film tak menghibur? 

Tapi kalau disuruh memilih, saya bisa kok diajak nonton film begitu. Seru juga kalau script-nya bagus. Asal bukan pilihan pertama saja deh.

Sesungguhnya saya menanti ada film superhero yang tidak mainstream, semacam film superhero lain yang menjadi pembendung dari apa yang disiratkan oleh film-film pahlawan fantasi itu. Superhero kulit hitam, mungkin? Atau superhero ibu-ibu yang tidak seksi seperti Wonder Woman?


Ya maaf kalau saya belum tahu, ya.

2 comments:

Cahya Legawa said...

Kalau menurut saya trilogi Batman yang baru kan sudah agak keluar dari mainstream. Banyak mengadopsi filosofi Timur juga :). Sehingga unsur "superhero" yang menang atau kalah mengenaskan nyaris tidak terasa, malah seperti menonton drama kontemporer saja.

adventura said...

waduh.. saya jugaberusaha menghindari drama. ini bukan masalah timur atau barat nya juga sih bli.. tapi apa dia juga nenawarkan sudut pandang baru sekaligus bisa menjadikan penonton pintar menyerap pesan kepahlawanan tanpa ngerasa digurui.