Monday, June 30, 2008

Rehat Sejenak

Wahai blogwalker yang budiman...
Dalam rangka mengikuti Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat [KKN PPM] 2008, maka blog ini jadi ikut cuti selama dua bulan. Program yang saya ikuti adalah Pemberantasan Buta Aksara [PBA]. Kurang lebihnya begitu, meski sebenarnya bulan lalu saya tidak pernah memperbaharui post saya, he he...

Mendapatkan lokasi Plotting di Desa Wadungan, Wonosobo, membuat saya jadi sibuk mempersiapkan barang bawaan yang sangat banyak, terlebih lagi desa tersebut letaknya di daerah pegunungan Sumbing di mana kabarnya desa tersebut merupakan desa yang lokasinya tertinggi di Wonosobo.

Yup, dari sini saya memohon doa bagi kelancaran KKN kami tahun ini. Semoga apa yang kami lakukan dapat memberi kontribusi yang optimal bagi masayarakat sekitar.

untuk lebih jelasnya tentang KKN-PPM UGM, silakan klik di sini

Adios, sayonara, pareng...

Wednesday, April 30, 2008

Green Remarks [?]

Well, frankly typing, April 22 has always been a day to renowned the environmental awareness. This even called “earth day” for complimenting the earth for existing and contributing living goods for us human. Just wanted to expose the commemoration on my campus, there was activities to be done, the “no machine-equipped vehicle in earth day” campaign, wearing green-nuanced outfits, and so forth. The KPALH Setrajana, the student unit for environmental [and outdoor] activities had initiated this chain of programs and held some seminar and academic talks about the environment. It was probably just a slight euphoria, but still inspiring though. What attracting guys in there was a horribly wide white cloth for you to write comments about environment on. It was absolutely for memorable purpose, but I hope that this will be a promise to ourselves to commit environmental keeping.

pictures...


Biology Faculty's demo on sunday





post your signatures


Wednesday, April 09, 2008

Lunch Time Break Music

Well, probably the updates are on a long, long way from routines. After got caught on several bittersweet business out there, finally I begin writing on this stuff again ^-^;
Oh yeah maybe this is relatively out of date, nevertheless, I’d like to show what they’d done in my campus during lunch time. Several months before now, possibly it’s February, a kinky-and-dandy –but-minimalist jazz group came showing up at my faculty’s canteen. This was quite amusing and entertaining, when suddenly we were being surprised with their present of enjoyment, astonished performance on the first place.

The group consisted of two sub-platoons, one of them was called Andy Gomez Quintet and the other one was The Kirana Big Band. The faculty set up a small stage and band equipment on the west side of the cafeteria. As an emphasizing tune of jazz music, they were including saxophone player as well. On one part, they played instrumental jazz; another part was a vocal–lead full band format. As I recall, audiences were distracted so much, and very well relaxed by their music. I don’t get much reference on jazz, but I’m somewhat familiar with the music, maybe that’s just due to the frequent broadcast as back sounds on many TV shows or ads?? LOL.

In the end, I figure out that it was a promotional attempt to gain audiences on their real commercial show the next 10 days [I’ve got the pamphlet somehow I forgot the date]. In my humble opinion, the promotion was successful and not a mere slight excitement. I bet people had gone after them to watch their show live. I supposed there should be another show next time like this, but as long as they don’t get in the lecture way inside the class to bring the noise… Even the lecturer cannot concentrate much…

Thursday, February 14, 2008

New Input From the Past

Wah, setelah beberapa waktu, aku mulai menyusun ulang catatan kuliahku yang tercecer untuk nanti kubaca lagi. Rencananya aku akan mulai memikirkan bagaimana untuk belajar menulis sebuah wacana tentang hubungan internasional [HI] yang lebih komprehensif. Untuk itu aku perlu referensi lebih banyak dan menambah porsi diskusi dengan orang-orang terkait untuk menambah wawasan. Senangnya, sekarang sudah banyak yang membantu daripada dulu.
Setelah mencari-cari dan mengelompokkan, akhirnya aku menemukan catatan beberapa waktu yang lalu di antara map-map berisi… hmm aku tak bisa bilang, unforgetable memories. Beruntung, catatan itu sangat penting, karena belum ada dosen HI di UGM yang memberi kuliah tentangnya. Yang spesial, itu kudapat waktu kuliah dengan Profesor Sakai Yumiko dari Chuo University [Chuo Daigaku] Jepang. Dalam ingatanku beliau terlihat awet muda, di saat yang sama aku berpikir bahwa jarang sekali ada wanita Jepang yang sekolah sampai jadi doktor. Mungkin sebaiknya aku bagi sedikit di blog ini untuk dapat dijadikan bahan diskusi lebih lanjut.

*****

Di Jepang khususnya Chuo University, Ilmu HI ditelaah untuk mengkaji dan mendalami perang dan perdamaian khususnya pada kedua masa Perang Dunia. Menurutnya terdapat beberapa isu penting yang beliau alamatkan untuk mengidentifikasi peristiwa yang dapat dijadikan acuan studi. Kejadian yang dimaksud terdapat pada Perang Dunia pertama [PD I] di mana isu senjata pemusnah massal mulai mencuat pasca terbongkarnya Manhattan Project. Isu tersebut disejajarkan dengan isu kemanusiaan di mana lebih banyak korban sipil bergelimpangan.
Kemudian rangkaian peristiwa penting lainnya juga beliau tuturkan, yaitu isu yang memanas di rentang waktu antara PD I dengan PD II, yaitu mengenai usulan dan pemikiran masyarakat idealis mengenai pengaplikasian hukum internasional untuk mencegah perang. Inilah yang menjadi titik tolak dibentuknya rezim internasional yang ditandai dengan munculnya embrio organisasi supra-nasional. Munculnya pemikiran para ahli seperti Hans J. Morgenthau dengan bukunya Politics Among Nations dan juga General Theories of International Politics telah membantu para pembuat keputusan untuk memetakan kekuatan politik dunia.
Sakai-sensei juga sedikit membahas mengenai perdamaian. Beliau menjelaskan bahawa studi tentang perdamaian secara aktif dipaparkan oleh Johann Galtung. Ia banyak memunculkan teori-teori mengenai perdamaian dan pendekatan dalam memahami banyak perspektif mengenai perdamaian. Selain itu Gene dan Sharp juga banyak melahirkan alternatif metode bina damai atau peace building secara non-kekerasan.
Perdamaian dapat dimaknai dengan dua cara menurut Galtung. Yang pertama ialah passive peace di mana perdamaian itu hanya sebatas ketiadaan perang atau kekerasan langsung. Sementara positive peace melihat bahwa perdamaian ialah juga ketiadaan kekerasan non-fisik atau kekerasan struktural yang tidak langsung.
Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba beliau beralih membahas mengenai teori hubungan internasional. Menurut yang dijelaskan, ada beberapa model dalam menganalisa politik dan hubungan antar negara. Sekali lagi, sepertinya aku belum pernah menemukan yang seperti ini di buku yang pernah kubaca. Oh ya, seingatku Sakai-sensei banyak menghabiskan waktu kuliah demi membahas model ini.

Yang pertama ialah Power Politics Model [PPM]
Dimunculkan oleh Thomas Hobbes dalam bukunya, Leviathan, chapter ke-13. Jika melihat ilustrasi di atas, kita dapat menyimpulkan jika negara-negara saling lepas dalam mengurusi politik intern mereka. Dalam pandangan ini, problema yang dihadapi oleh suatu negara hendaknya diselesaikan oleh negara itu sendiri. Hal tersebut didasari asumsi bahwa kedaaan politik internasional penuh dengan anarki, dan negara-negara cenderung untuk saling berebut kekuasaan. Makanya jika suatu negara sampai melibatkan pihak luar untuk problem solving dikhawatirkan akan terjadi intrusi politik yang merupakan awal dari serangan pada suatu negara tertentu. Benar-benar berasa realis.

Model kedua adalah Transnational Function Model [TFM]
Di mana hubungan antar negara digambarkan saling ketergantungan, karena kedudukan masing-masing bangsa ternyata tidak sekuat yang dibayangkan untuk dapat melakukan autarchy, dan ancaman agresivitas negara lain tidak dirasa sepenuhnya benar adanya. Dalam rangka memfasilitasi hubungan ketergantungan tersebut, maka negara bekerja sama dengan berbagi sebagian kedaulatannya demi meraih tujuan dan pemenuhan kebutuhan bersama. Model seperti ini pertama kali diwujudkan dalam pembentukan European Economic Society [EEC] yang merupakan cikal bakal Uni Eropa.

Terakhir mengenai Centre Periphery Model [CPM]
Kenyataan bahwa kesejahteraan tidak selau merata telah melahirkan kesenjangan di antara bangsa-bangsa. Oleh karena itu akan selalu ada sebuah pusat di mana power terkonsentrasi yang disebut center. Ada pula daerah di sekitar center tersebut yang berkarakteristik kurang berkembang dibanding center, namun tetap terpengaruh dan bergantung pada center. Area itu disebut periphery, sebagai akibat perluasan pengaruh dari center. Ketergantungan periphery terhadap center merupakan sebuah dominasi kekuatan, di mana tanpa center, periphery tidak akan berlangsung. Galtung menyebutnya sebagai dependency theory.

Dalam ketiga model tersebut, Sakai-sensei juga mengemukakan bahwa banyak aktor yang dapat terlibat dalam jalannya sistem. Bukan hanya negara, namun juga korporasi multinasional, lembaga swadaya masyarakat atau non-govermental organizations (NGOs), serta pula Perserikatan Bangsa-Bangsa dan bahkan aktor individual.

masih ada lagi... tp ntar yah... hehehe

Thursday, November 29, 2007

Mengenai Melancholy


Mungkin akan sulit bagiku untuk memulai menulis sesuatu yang bernuansa sedikit romansa dan filosofis. Mengapa? Karena mungkin... aku seorang yang lebih praktikal, lebih menyukai proses serta pekerjaan; dan agak menafikan apa yang melatarbelakangi mengapa sesuatu terjadi. Meski begitu, aku juga mendapat manfaat dari merenungi diri dan menelusuri apa yang terus membayanginya dengan mencari penjelasan sendiri. Itulah mengapa title blog ini adalah Eva no Logy no Melancholy. Melankoli menggambarkan diriku dengan sangat tepat.

Beberapa lama belakangan ini, suasana hatiku memang terasa sedikit aneh. Sepertinya ada yang hilang. Makanya menjadikan blog ini sebuah melancholy mungkin suatu pilihan untuk menggambarkan keganjilan yang kualami. Tidak mau terdiam membaca tulisan seorang alien, yang ternyata senior saya Mas Rum, maka aku berniat membuat sudut pandang lain mengenai hal-hal melankolis.
Dalam ilmu psikologi (betulkan ya jikalau salah) terdapat empat macam kepribadian dasar seseorang menurut Sigmund Freud, yaitu Sanguinis, Melankolis, Plegmatis, dan Koleris. Mungkin kalau anda tanya pada ibuku, beliau akan mampu menerangkannya dengan bahasa pemuda-pemudi Indonesia masa kini, terlebih gelar S.Psi telah disandangnya. Khususnya melankolis, dalam tinjauan ilmiahnya (memang) dilihat sebagai suatu keganjilan dan ketidakseimbangan hormonal yang menyebabkan seseorang mengalami guncangan mental. Bisa ringan bisa akut, tergantung gejala emosional yang ditimbulkannya. Hal tersebut muncul ketika seseorang mengalami depresi, takut, dan phobia yang berlebihan akan sesuatu. Hal tersebut telah diteliti sejak sebelum Masehi hingga masa Renaissance di mana semua hal dilukiskan dalam seni yang romantis dan menggugah kehalusan perasaan manusia. Mood atau suasana hati dapat tergambar ketika kita mengapresiasi sesuatu yang menyentuh hati, membuat kita ”ditekan” olehnya.

Misalkan kita mendengarkan sebuah lagu yang romantis, menonton pertunjukan yang menguras air mata, ataupun sekedar bertengkar dengan teman baik; dapat membuat pikiran rasional hilang, dan kita diambil alih oleh guncangan emosional. Banyak perilaku dan ritual, mendasarkan pada emosi akan pencapaian ketenangan perasaan. Sebut saja kaum Yahudi lama yang memuja hari Sabtu demi mendapat perlindungan batin. Kita dapat melihat bagaimana melancholy ada dalam budaya pop, saat aliran musik Emo mulai mendapat tempat di studio rekaman grup cadas. Tema yang diangkat dalam emo merupakan manifestasi sisi gelap manusia, bagaimana depresi dapat mengajak kita bunuh diri, bagaimana kita hancur karena dihantam bumerang kebaikan sendiri, dan terlebih lagi tema cinta yang diangkat juga bernuansa ”tidak bahagia”. Terlebih lagi para pengikut emo membumbui semua itu dengan musik berketukan tinggi frekuensi dan hingar bingar.


Namun lebih dari itu, aku merasa semua orang pasti mengalami ketakutan, depresi, bahkan di bawah sadar sekalipun. Melankoli yang ada di dalamnya merupakan potensi kehancuran bagi diri sendiri. Lalu kita menjadi objek kesedihan orang lain dan menjadi referensi ketidakpatutan. Di samping itu, melankolisme menjadi suatu jalan penemuan diri bagi yang menanggapinya positif. Guncangan mental ini, yang berupa kemarahan, dendam, ketakutan akan dosa dan kematian, psikosis, rasa malu, serta kebencian, sebenarnya memiliki obat yang mujarab yaitu disiplin pengendalian diri. Hal utama yang disyaratkan adalah percaya diri. Dengan memilikinya, berbagai metode dapat dilakukan untuk tidak terlarut dalam emosi. Contohnya memberdayakan pemikiran rasional, disiplin moral, berpantang dan berpuasa, seperti yang diikuti penganut Avicennan.


Jika dituangkan dalam seni, pasti melancholy akan sangat bermakna. Berbagi dengan orang lain juga dapat membuat kita mengerti bagaimana emosi harus dikendalikan. Sekali lagi, aku lebih suka memandangnya dari segi praktikal, meski sesungguhnya melankoli menjadi sesuatu yang kadang merusak, lesu, dan butuh pembebasan. Banyak sekali orang melankolis sangat menyukai hal yang berbau kebebasan, karena secara batin dan utamanya mental, mereka terkurung. Mungkin kita dapat menemukan pembebasan itu, dengan menemukan kekurangan yang sama dari orang lain yaitu penderitaan yang sama. Jika kita dapat berbagi dan merasa senang karenanya, kita akan menjadi seperti conjuctio Solis et Lunae (perkawinan mistis antara matahari dan bulan) yang dipopulerkan Carl Gustav Jung mengenai pendapatnya tentang cinta.

Tuesday, November 27, 2007

Hmm. Just A Thought

Lately, after I came back UGM I have gone ahead to contribute something towards my dark-but-fabulously-shimmering organization, EDS UGM, to become coach for the newbie class of 2007. Half-heartedly I was standing to handle it, but giving your number one priority list is still inadequate for their development, and yet to be easy for me. Not to mention that I plan to practice full-time studying this semester, something that I cannot afford though.

I’ve got three kids to handle in a team training. First thing that I told them was that debate is not a smooth way to go and secondly that they’d not there to learn any more English that of a pro debater could speak. Should they get problems with it; they have to solve it themselves. Other rules of EDS UGM were very clear to begin with, that we would do anything to accomplish achievements so that we could HAVE FUN of it.

Sadly, reviewing this term of training, me and my pair Febrian, found it was more than grumpy street to go. They were so damn lazy and got nothing called motivation and commitment. I’m not going to blame them, but that was the thing happened these times repeatedly. I’ve never seen one could be under-couraged like them. I just began to prepare assessment on matter wise while then they showed no spirit. They even not tried to be proactive, I know probably they got mess ahead on their days but we do have to sacrifice bunch of stuffs if we want to have something on ourselves. Moreover, everyone does busy.

I was so regretful that my shot to be a teacher was washed away. I don’t like people come late without reasonable excuses. I do not like my trainees even didn’t know any single thing called discipline. I’ve went trough a hell of it during my early training at my former entrance to EDS UGM. I hated myself for losing my ability to be strict and though to my kids. It’s a pity if I was taken over by anger, but Febrian did it. Sometimes it sounds though, but it’s necessary after all.

Founders Trophy 2007 and Indonesian Varsities English Debate 2008 are coming, but none of them are mine. I am getting too tired to build my cases and to look for more matters, but it’s just it. I do like debating like crazy and crushing my opponets without remorse. Probably next semester I would be able to increase my presence every Saturday, like I always did before.

Masih Bingung mencari Fokus

Fokus! Itu adalah kata yang sangat penting buatku sekarang ini, dan maunya semua orang bisa mingingatkanku buat tetap konsisten pada apa yang kukerjakan. Tak bisa dipungkiri, menjadi mahasiswa Hubungan Internasional (HI) di UGM saat ini memang terkesan agak santai dalam prosesnya, dan masih relatif dapat dipertahankan untuk diperjuangkan. Mungkin banyak pembelajar dari fakultas ataupun jurusan lain yang agak mengerutkan dahi dan alis ketika mendengar bentuk skripsi mahasiswa HI yang sekilas kelihatannya cuma sebuah studi pustaka atau review saja. Bahkan ditambah fakta bahwa hanya dengan minimal empat puluh lembar bagian pembahasan saja, seorang mahasiswa sudah dapat berdiri di depan dosen penguji skripsi.

Namun ternyata sangat mudah untuk membayangkan bahwa banyak sekali yang kebingungan akan mengangkat masalah seperti apa, seakan-akan dunia politik internasional masih adem-adem saja. Padahal sekarang ini konstelasi politik global sedang mengalami transisi yang demikian cepat hingga dengan tak sadar kita telah berubah pula karenanya. Fenomena globalisasi yang dibarengi gerakan resistensi telah memberi banyak isu untuk dibahas. Isu minyak di Amerika Latin, globalisasi Linux, bahkan fenomena blogging telah memberi jalan baru bagi para pencetus propaganda untuk menyebarluaskan opini.

Di lain sisi, sepertinya aku juga kebingungan. Hmm... mekanisme self-tailoring yang digagas oleh kurikulum HI UGM tahun 2000 juga kurang memberi panduan bagi mahasiswa untuk mengambil mata kuliah, di samping sifatnya yang memang membebaskan mahasiswa guna mengambil kuliah yang diminatinya saja. Sebagai gambaran, aku mengambil Minat Topik Ekonomi Internasional, serta Minat Kawasan Asia Timur (China, Jepang, dan Korea Selatan). Seperti kata Pak Yahya Muhaimin, mantan menteri pendidikan era Megawati sekaligus dosen HI, bisnis dan politik ternyata sangat berkaitan dalam dunia internasional. Maka akhirnya aku memutuskan untuk fokus di kedua minat tersebut. Tapi semuanya jadi agak aneh kalau tidak mengambil kuliah yang lain juga. Akhirnya beberapa mata kuliah Minat Pertahanan Kemanan Internasional juga kuambil, plus satu mata kuliah Amerika Serikat. Wah, lumayan juga menjalaninya, namun menggabungkan pengetahuan juga lumayan memeras otak. Terlebih tugas-tugas yang tak pernah berakhir selalu berganti tipe dan metode, semakin menambah semarak bintang-bintang yang berputar di sekitar kepala.

Sekali lagi aku ingin tetap fokus, konsentrasi di sentral belajar yang aku susun. Eh, malah banyak sekali hal lain di luar itu yang menarik perhatianku. Sebagai mahasiswa yang sangat berminat dengan segala kegiatan jurusan, aku dan teman-temanku juga banyak mendapatkan ilmu dari luar kelas. Sudah tak terhitung dari mana saja aku menemukan minat di luar fokus. Akhirnya, aku juga sudah mulai menemukan ide untuk skripsi nanti, dan untungnya aku masih tetap setia dengan Asia Timur. Aku memang suka sekali kebudayaan oriental, terlebih lagi gaya politiknya sangat akulturistik, beda dengan daerah lain di muka bumi ini. Mungkin, nanti aku nulis tentang strategi sekuritisasi ekonomi Jepang pasca renggangnya hubungan Japan Incorporated jamannya PM Satou Eisaku (duh, kenapa aku maniak sekali dengan Japan Incorporated ini ^.^), atau bisa juga pengaruh perkembangan reformasi chaebol terhadap naiknya Kim Dae Jung sebagai presiden. Yah pokoknya temanya itu dulu, judul pastinya nanti dipikirkan habis bertapa, hahahah... (nggak gue banget itu). Huh, jadi teringat betapa aku akan lulus dalam waktu yang agak lama, mengingat kuliahku santai sekali, tiap semester mengambil paling banyak 22 SKS. Memang hal itu tujuannya untuk bisa lebih fokus belajar serta mendongkrak nilai yang lebih optimal. Meskipun bisa dikata IPK-ku memenuhi syarat untuk mengisi 24 SKS penuh di KRS-ku.

Menilik dari hasil belajar sebelumnya, sepertinya lebih fokus menjadi suatu keharusan. Terlebih lagi ada keinginan untuk mencapai sesuatu, kesempatan terakhirku untuk mencapai hal “itu” lagi. Masih mau lagi. Kemenangan mutlak harus ditargetkan untuk maksimalisasi hasil, baik akademik maupun non-akademik. Tapi susah sekali memfokuskan diri itu. Meskipun sudah menetapkan diri dengan melaksanakan study oriented, masih ada saja yang menggangu pikiran di tempat lain... Hmmm hhehehehe... disiplin itu susah. Apalagi aku hidup ditengah orang-orang santai sehari-harinya. Huh.

Hitorikiri dakedo, boku wa chigatte naraba, kurayami de ano shin chikara wa boku ga tasukete yo.